INDOPOSCO.ID – Di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda, stabilitas politik di lingkar kekuasaan menjadi sorotan. Analis komunikasi politik, Hendri Satrio, mengingatkan Presiden Prabowo Subianto untuk tidak lengah membaca dinamika internal koalisinya sendiri.
Menurut pria yang akrab disapa Hensa itu, konstelasi politik di sekitar presiden bukan sekadar soal kerja sama, tetapi juga soal momentum dan kepentingan.
“Kondisi ekonomi seperti ini, Pak Prabowo harus hati-hati, kan sekelilingnya orang politik,” kata Hensa melalui gawai, Kamis (9/4/2026).
Ia menilai, dalam situasi seperti sekarang, koalisi tidak selalu berarti soliditas tanpa celah. Justru, kata dia, ada kecenderungan sejumlah pihak mulai membaca peluang.
“Memang ya betul ada koalisi, tapi sekarang menurut saya koalisinya Pak Prabowo tuh juga lagi mengamati, lagi memperhatikan, kapan harus nikung di tikungan,” lanjutnya.
Hensa menegaskan, potensi gesekan itu tidak selalu datang dari luar. Bahkan, menurutnya, ancaman justru bisa muncul dari lingkaran terdekat.
“Harus hati-hati Pak Prabowo membaca teman-teman politiknya yang sebetulnya bisa jadi lawan politik, termasuk orang-orang yang dekat, misalnya yang dilantik bareng-bareng tuh,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai konsisten menjaga komunikasi langsung dengan masyarakat. Aktivitas blusukan yang terus dilakukan dianggap menjadi cara efektif menjaga kedekatan dengan publik.
“Wapres Gibran itu mau Selat Hormuz ditutup, mau ada serangan Israel-Amerika Serikat ke Iran, dia tetap blusukan, nah jadi tetap dia berkomunikasi dengan rakyat kecil, just like his father,” ungkap penulis buku Riah Riuh Komunikasi itu.
Meski begitu, Hensa tidak menampik adanya berbagai spekulasi politik yang berkembang di ruang publik. Salah satunya adalah narasi mengenai kemungkinan perubahan kepemimpinan di tengah masa jabatan.
Namun, ia memilih bersikap realistis terhadap wacana tersebut.
“Saya lebih memilih ganti presiden 2029 lewat pemilu, kalau di tengah-tengah seperti ada kasak-kusuk mengganti Prabowo dan menaikkan Gibran, saya memilih untuk tidak percaya. Mari kita jaga Indonesia,” tambahnya.
Di tengah situasi yang dinamis, pesan utama Hensa sederhana namun tegas: kewaspadaan politik tetap menjadi kunci, terutama ketika tekanan ekonomi bisa mengubah peta loyalitas dalam sekejap. (her)








