INDOPOSCO.ID – Platform informasi mudik milik pemerintah, Mudikpedia, tampaknya masih belum berhasil merebut perhatian mayoritas pemudik pada Lebaran 2026. Meski dirancang sebagai pusat informasi perjalanan, tingkat pemanfaatannya masih tergolong rendah.
Survei terbaru dari KedaiKOPI menunjukkan bahwa hanya 19,7 persen responden yang mengaku menggunakan Mudikpedia selama periode mudik tahun ini. Temuan ini dipaparkan oleh Head of Research KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, dalam survei yang digelar pada 23–30 Maret 2026 terhadap 1.101 pemudik.
Menurut Ashma, rendahnya angka tersebut bukan karena kurangnya kebutuhan akan informasi perjalanan, melainkan karena pemudik sudah memiliki alternatif lain yang dianggap lebih memadai.
“Bagi yang tidak menggunakan, sebenarnya lebih kepada mereka merasa ada aplikasi lain yang bisa mensubstitusi kebutuhan yang mereka butuhkan di Mudikpedia. Jadi mereka merasa sudah cukup menggunakan Google Maps atau Waze, atau mereka merasa tidak membutuhkannya atau justru menggunakan media sosial,” kata Ashma.
Hal ini menegaskan bahwa kebiasaan dan kepercayaan terhadap platform yang sudah lama digunakan masih menjadi faktor utama dalam memilih sumber informasi perjalanan.
Di sisi lain, perjalanan mudik tahun ini juga diwarnai tantangan cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada kondisi jalan. Mulai dari permukaan jalan yang licin hingga banyaknya lubang, situasi ini turut memperparah kemacetan di sejumlah titik.
Meski begitu, bagi sebagian kecil pemudik yang memanfaatkan Mudikpedia, platform ini tetap memiliki fungsi yang cukup spesifik. Mayoritas pengguna mengandalkannya untuk memantau kondisi lalu lintas secara terkini.
“Bagi yang menggunakan Mudikpedia, itu memang mayoritas untuk mengecek peta kemacetan, yaitu 69,1 persen atau untuk mengupdate informasi terkini soal mudik,” tutur Ashma.
Temuan lain dalam survei yang sama menunjukkan bahwa kebutuhan akan informasi real-time masih menjadi perhatian utama masyarakat. Sebanyak 53 persen responden berharap adanya perbaikan dalam manajemen lalu lintas sekaligus penyediaan informasi yang lebih cepat dan akurat.
“Lalu 53 persen masyarakat berharap manajemen lalu lintasnya bisa lebih diperbaiki dan mereka bisa lebih menerima informasi real time,” tambahnya.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa tantangan pemerintah bukan hanya menghadirkan platform baru, tetapi juga membangun kepercayaan dan kebiasaan pengguna agar beralih ke layanan yang disediakan. (her)








