INDOPOSCO.ID – Lebih dari tujuh dekade menjadi tulang punggung produksi minyak nasional, Wilayah Kerja (WK) Rokan kini menghadapi kenyataan yang tak terelakkan: penurunan produksi alamiah atau natural decline. Tantangan ini bukan sekadar angka, melainkan ujian konsistensi bagi operator dalam menjaga keberlanjutan energi negeri.
Namun di tengah tekanan tersebut, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) justru memilih untuk tidak mengendur. Strategi agresif melalui pengeboran masif, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci untuk menjaga performa lapangan yang telah memasuki fase matang.
General Manager Zona Rokan, Andre Wijanarko, menegaskan bahwa tanpa langkah intervensi yang terukur, produksi migas di wilayah ini bisa merosot tajam.
“Lapangan mature (tua) seperti Rokan memiliki laju penurunan alamiah yang sangat agresif. Bisa mencapai 11 persen hingga belasan persen setiap tahunnya. Ibarat kita berlari ke atas di eskalator yang bergerak turun dengan cepat. Jika kita diam atau hanya berjalan santai, kita akan terseret ke bawah,” kata Andre dalam keterangannya, Senin (7/4/2026).
“Pengeboran ratusan sumur baru setiap tahun adalah cara kami ‘berlari cepat’ untuk memastikan pasokan energi tetap andal dan produksi terjaga di kisaran 150 ribu – 160 ribu barel minyak per hari (BOPD),” sambungnya.
Ia menjelaskan, target pengeboran ratusan sumur bukan sekadar ambisi, melainkan kebutuhan teknis untuk menahan laju penurunan produksi yang terus terjadi secara alami.
Operasi besar ini juga dijalankan dengan koordinasi erat bersama SKK Migas, guna memastikan seluruh aktivitas tetap berada dalam koridor kehati-hatian dan efisiensi.
“Setiap barel yang berhasil kita pertahankan dari natural decline adalah wujud komitmen nyata kami bagi negara. Karena WK Rokan beroperasi dengan skema Gross Split, kami memiliki tanggung jawab untuk mengelola seluruh risiko operasional secara mandiri,” pungkas Andre.
Di sisi lain, optimalisasi teknologi dan efisiensi menjadi strategi penting agar setiap pengeboran memberikan hasil yang maksimal.
“Oleh karena itu, di tengah tantangan sumur tua, kami terus berupaya melakukan efisiensi operasional dan optimalisasi teknologi. Tujuannya agar setiap aktivitas pengeboran mampu memberikan dampak yang terukur bagi upaya menjaga urat nadi migas nasional,” tuturnya.
Tak hanya fokus pada produksi, PHR juga menjaga keseimbangan antara operasi dan pemberdayaan. Mitra lokal di Riau dilibatkan secara aktif, seiring dengan upaya revitalisasi aset dan ekspansi pengeboran.
Di atas semua itu, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah operasi.
“Kami mewajibkan pemenuhan standar keselamatan tanpa pengecualian apa pun. Bagi kami, operasi yang masif wajib menjadi operasi yang selamat,” tambahnya. (her)








