INDOPOSCO.ID – Peta politik menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai memperlihatkan bayangan arah, dan satu nama yang terus jadi bahan perbincangan adalah Anies Baswedan. Namun, jalan yang harus ditempuh mantan Gubernur DKI Jakarta itu disebut tak akan mudah.
Analis komunikasi politik Hendri Satrio melihat Anies kini berada di titik krusial: memilih tetap idealis atau mulai bermain pragmatis demi menjaga eksistensi di panggung nasional.
“Anies ini pilihannya sekarang memang enggak enak, kalau idealis bisa jadi dia hilang dari percaturan nasional. Kalau dia pragmatis mungkin banyak pendukungnya enggak suka,” kata Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, Selasa (7/4/2026).
Menurut Hensa, jalur idealisme bukan tanpa risiko. Anies bisa saja membangun kekuatan politik baru lewat Partai Gerakan Rakyat, kendaraan politik yang belum lama ia perkenalkan. Namun, jalan ini penuh tanjakan, mulai dari verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU), kebutuhan logistik besar, hingga potensi tekanan dari rival politik.
“Enggak gampang (untuk membesarkan Partai Gerakan Rakyat), butuh biaya besar, belum lagi ada hantaman dan hambatan politik kan. Ini kan politik dan lawan-lawan politiknya Anies, kalau Anies mau maju kan enggak diem aja,” kata Hensa.
Di sisi lain, opsi pragmatis membuka jalur yang lebih cepat, meski penuh kompromi. Bergabung dengan partai mapan dinilai bisa menjaga nama Anies tetap relevan—bahkan jika harus memulai dari posisi wakil presiden.
“Kalau dia pragmatis, 2034 nanti dia bisa berlaga. Jadi artinya kayak ‘ya udah lah gue jadi wakilnya siapa dulu gitu’, masuk dulu, membina lagi karir politiknya,” tutur Hensa.
Dalam skenario yang lebih berani, Hensa bahkan menyebut kemungkinan duet dengan Kaesang Pangarep melalui Partai Solidaritas Indonesia. Kombinasi ini dinilai berpotensi menggabungkan basis massa baru dengan efek ekor kekuasaan yang masih kuat.
“Kalau dia (Anies) mau mendapatkan kekuatan Jokowi, ya Kaesang. Kaesang-Anies Baswedan misalnya, mungkin bisa juga kalau dia mau,” ungkap penulis buku Riah Riuh Komunikasi itu.
Meski peluang tetap terbuka, Hensa menilai perjalanan politik Anies belakangan meninggalkan catatan yang tidak sepenuhnya positif. Salah satunya adalah manuver pasca-Pilpres 2024, ketika Anies sempat dikaitkan dengan pencalonan di Pilkada, bahkan hingga muncul isu perpindahan ke Jawa Barat.
“Ingat waktu dia mau maju Gubernur pas dia gagal capres, bahkan sempat diisukan akan pindah ke Jawa Barat, bila PDI perjuangan mengusulkan, itu sebuah cerita yang enggak enak menurut saya, ini orang kayak cari kerjaan aja,” imbuhnya.
Selain itu, dinamika perpindahan afiliasi politik juga dinilai memengaruhi persepsi publik terhadap konsistensi Anies.
Namun satu hal yang tak terbantahkan, basis massa Anies masih ada. Tantangan terbesarnya kini bukan sekadar jumlah pendukung, melainkan bagaimana kekuatan itu diorganisasi dan diarahkan menuju kontestasi besar berikutnya.
“Sosok (Anies) ini masih punya massa, iya. Tapi siapa yang membawa massanya dia kan, nah ini yang harus dipertimbangkan oleh Anies,” tambahnya.
Di tengah dinamika ini, pilihan Anies akan menentukan bukan hanya masa depannya sendiri, tetapi juga arah baru peta politik nasional menuju 2029 dan seterusnya. (her)








