INDOPOSCO.ID – Peran Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dalam menjelaskan agenda pemerintah kembali menjadi sorotan. Kali ini, ia tampil sebagai wajah utama komunikasi publik terkait kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang.
Menurut analis komunikasi politik Hendri Satrio, kemunculan Teddy justru menjawab kebutuhan publik akan informasi yang selama ini terasa kurang.
“Bagus sih, ya pada akhirnya kan Teddy ini fill the gap, memenuhi hausnya masyarakat terhadap informasi aksi-aksi pemerintah,” ujar Hensa -sapaan Hendri Satrio- melalui gawai, Kamis (2/4/2026).
Meski demikian, Hensa menilai ada hal yang mengganjal. Ia mempertanyakan mengapa peran komunikasi publik lebih sering diambil oleh Teddy, sementara para menteri yang terlibat langsung dalam agenda pemerintahan justru tidak tampil.
Dalam kunjungan ke Jepang misalnya, hadir pula Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Danantara Rosan Roeslani serta Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Namun, keduanya tidak menjadi sumber utama penjelasan kepada publik.
“Penampilan Teddy dalam menjelaskan kunjungan Prabowo ke Jepang semakin mengukuhkan posisi dirinya yang strategis di pemerintahan, padahal di momen itu ada Rosan dan Bahlil,” kata Hensa.
Fenomena ini, menurut Hensa, bisa dibaca sebagai strategi pemerintah dalam merapikan pola komunikasi yang selama ini dinilai belum optimal. Teddy dianggap menjadi “penyambung lidah” yang lebih konsisten dalam menyampaikan pesan pemerintah.
“Mungkin ini adalah sinyal pemerintah sedang menambal gap komunikasi publik yang kini dibiarkan satu pintu lewat Teddy karena kerap kali komunikasi jajaran kabinet kurang memuaskan,” tuturnya.
Meski pendekatan satu pintu dinilai efektif dalam jangka pendek, Hensa mengingatkan bahwa hal ini tidak bisa dijadikan solusi permanen. Ia menekankan pentingnya peran para menteri untuk tampil dan menjelaskan kebijakan secara langsung kepada publik.
“Kalau Teddy memang sedang dijadikan jembatan komunikasi antara Prabowo dan publik, buat saya ini biarkan aja dulu berjalan,” jelas Hensa.
“Tapi pemerintah harus sadar, ini bukan solusi permanen dan menteri bukan pajangan dalam arti mereka juga harus bisa menjelaskan ke publik,” tambahnya.
Di tengah dinamika komunikasi pemerintahan, peran Teddy kini tampak semakin sentral. Namun pertanyaannya, apakah ini strategi sementara atau justru arah baru komunikasi politik pemerintah? (her)








