INDOPOSCO.ID – Kinerja manufaktur Indonesia pada Maret 2026 tetap berada di zona ekspansi, meski lajunya melambat. Purchasing Managers’ Index (PMI) tercatat di level 50,1, turun dari 53,8 pada Februari, mencerminkan tekanan dari melemahnya permintaan baru dan ekspor.
Kenaikan biaya input akibat harga energi yang lebih tinggi serta gangguan rantai pasok global—termasuk keterlambatan bahan baku—ikut menahan laju produksi. Namun, permintaan domestik yang stabil menjadi penopang utama agar sektor ini tetap tumbuh.
“Sektor manufaktur Indonesia tetap ekspansif pada Maret 2026, ditopang permintaan domestik dan kinerja mitra dagang utama yang terjaga. Dengan adanya beberapa tantangan seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional akibat eskalasi geopolitik global, serta libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional, PMI tetap di zona ekspansi. Hal ini menegaskan ketahanan fundamental sektor manufaktur nasional dan upaya Pemerintah untuk terus antisipatif terhadap risiko ke depan,” ujar Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.
Optimisme pelaku usaha masih terjaga, didorong kondisi mitra dagang yang tetap ekspansif, seperti Thailand, India, hingga Amerika Serikat. Eurozone pun kembali mencatat ekspansi, membuka peluang bagi ekspor Indonesia.
Di dalam negeri, aktivitas ekonomi tetap solid. Indeks Penjualan Riil Februari tumbuh 6,9 persen (yoy), didorong momentum Ramadan. Penjualan mobil melonjak 12,2 persen, sementara konsumsi listrik industri dan penjualan semen juga meningkat.
Dari sisi harga, inflasi Maret terkendali di 3,5 persen (yoy), turun dari 4,8 persen. Penurunan terjadi pada hampir semua komponen, terutama administered price dan volatile food. Kebijakan pemerintah seperti operasi pasar dan bantuan pangan turut menjaga daya beli.
Sementara itu, neraca perdagangan kembali mencatat surplus USD1,27 miliar pada Februari, memperpanjang tren positif selama 70 bulan. Ekspor tetap kuat dengan nilai USD22,17 miliar, ditopang komoditas unggulan seperti besi baja dan CPO.
Impor naik 14,44 persen, didominasi bahan baku dan barang modal—indikasi kuatnya aktivitas produksi dan investasi domestik.
“Pemerintah terus memantau perkembangan geopolitik global dan memperkuat langkah mitigasi bersama K/L terkait untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional. Fundamental eksternal Indonesia akan terus dijaga, didukung kinerja sektor eksternal yang terjaga dan pengelolaan fiskal yang prudent,” ungkapnya.
Beragam strategi kebijakan terus dipacu untuk menjaga laju pertumbuhan sekaligus memperkokoh fondasi ekonomi nasional. Salah satu fokus utama diarahkan pada pembenahan iklim investasi, termasuk melalui penguatan kanal Debottlenecking Satgas P2SP yang dioptimalkan untuk mengurai berbagai kendala investasi secara cepat, terarah, dan terintegrasi.
“Di sisi lain, strategi pemerintah juga diarahkan pada penguatan kemandirian energi nasional, serta pemanfaatan momentum transformasi digital dan perkembangan budaya kerja sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi ekonomi. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks,” tambahnya. (her)









