INDOPOSCO.ID – Menjelang perayaan Idulfitri 1447 Hijriah, pemerintah memperkuat berbagai langkah untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan pangan dengan harga yang terjangkau. Melalui koordinasi Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama sejumlah mitra, beragam program intervensi pangan terus digulirkan sejak sebelum Ramadan dan akan berlangsung hingga Lebaran 2026.
Upaya ini dilakukan untuk meredam potensi lonjakan harga bahan pokok sekaligus menjaga stabilitas pasokan di berbagai daerah. Beberapa program utama yang dijalankan antara lain Gerakan Pangan Murah (GPM), Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras, serta mobilisasi stok lewat Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, stok pangan nasional kita aman dan memadai. Jadi pemerintah memastikan berbagai program intervensi pangan terus dilakukan sampai Lebaran untuk memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat,” kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dalam keteranganya, Senin (16/3/2026).
Menurutnya, intervensi pangan bukan sekadar menjaga harga tetap stabil, tetapi juga membuka akses pangan yang lebih luas bagi masyarakat. Program ini dirancang untuk menjembatani wilayah yang mengalami surplus produksi dengan daerah yang kekurangan pasokan.
Selain itu, intervensi tersebut juga diharapkan dapat menjadi penopang daya beli masyarakat, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah yang membutuhkan dukungan di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi selama Ramadan hingga Lebaran.
“Tentu tidak hanya GPM, SPHP juga berjalan untuk beras. Kemudian juga FDP kita lakukan. Tatkala ada yang mahal dan ada sumber pasokan yang banyak, kita akan lakukan distribusi. Artinya tidak hanya GPM, FDP ada, SPHP ada. Bahkan ada bantuan pangan yang diperuntukkan bagi 33,2 juta keluarga dan akan diberikan di bulan Maret ini sekaligus,” jelas Ketut.
Pelaksanaan program tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas sektor. Pemerintah pusat bekerja bersama pemerintah daerah, BUMN, BUMD, hingga pelaku usaha pangan untuk memperluas jangkauan distribusi pangan murah di berbagai wilayah.
“Tentu program intervensi pangan tidak akan hanya dilakukan oleh pusat, turut pula dilakukan oleh pemerintah daerah juga. Semua mengkolaborasikan agar kebutuhan masyarakat akan pangan tak terkendala. Nah, mudah-mudahan ini juga sebagai bagian daripada pengendalian inflasi,” jelas Ketut.
Sepanjang Maret 2026, pelaksanaan Gerakan Pangan Murah telah digelar 789 kali di 24 provinsi dan 153 kabupaten/kota. Dalam beberapa kegiatan, pemerintah juga menghadirkan GPM khusus yang menyediakan daging ayam beku kualitas premium dengan harga mengikuti Harga Acuan Penjualan (HAP).
Sementara itu, program SPHP beras yang dijalankan oleh Perum Bulog juga terus berjalan. Hingga 13 Maret, realisasi penjualan beras SPHP pada bulan ini telah mencapai 19,5 ribu ton. Untuk tahun 2026, masyarakat dapat membeli maksimal 5 kemasan beras ukuran 5 kilogram, dengan alternatif kemasan 2 kilogram yang dapat dibeli hingga 2 kemasan.
Di sisi lain, program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) juga dimanfaatkan untuk menyalurkan komoditas dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Hingga Maret, total distribusi telah mencapai 13.916 kilogram, terdiri dari cabai rawit merah 5.590 kg, sapi hidup 5.126 kg, beras 2.000 kg, serta Minyakita 1.200 liter.
Sejumlah wilayah yang menjadi tujuan distribusi antara lain Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, Pasar Induk Kramat Jati Jakarta, Lombok Tengah dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga Kepulauan Riau.
Selain itu, pemerintah juga mulai menyalurkan bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng sejak minggu pertama Maret. Hingga 14 Maret, sebanyak 232.076 penerima telah mendapatkan paket bantuan tersebut. Total bantuan yang telah disalurkan mencapai 4,64 juta kilogram beras dan 928,3 ribu liter minyak goreng.
“Gencarnya program intervensi pangan yang dilaksanakan pemerintah ini tidak lepas dari kokohnya stok pangan nasional,” tambahnya. (her)









