INDOPOSCO.ID – Senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat Richard Blumenthal mengaku, semakin cemas bahwa pengerahan militer AS demi mewujudkan ambisi pemerintah di Timur Tengah justru akan memicu konflik berkepanjangan.
Hal itu disampaikannya usai mengikuti pengarahan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan pejabat Gedung Putih lainnya. Ia juga mendesak transparansi lebih lanjut mengenai data intelijen yang digunakan sebagai dasar kebijakan penyerangan tersebut.
“Saya lebih khawatir dari sebelumnya setelah briefing ini bahwa kita mungkin akan mengirim pasukan ke lapangan, dan pasukan AS mungkin diperlukan untuk mencapai tujuan yang tampaknya diinginkan oleh pemerintahan ini,” kata Richard Blumenthal seperti dilansir dari Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).
Ketidakjelasan prioritas pemerintahan Trump menjadi sorotan, khususnya mengenai apakah kebijakan luar negeri mereka akan berfokus pada penghapusan nuklir Iran, serangan misil, pergantian kepemimpinan, atau pemberantasan terorisme. Hal itu meningkatkan risiko AS dapat terseret ke dalam konflik lebih luas.
“Tidak lebih jelas tentang prioritas apa yang akan diutamakan oleh pemerintahan ke depan, apakah menghancurkan kapasitas nuklir Iran, hanya misil, perubahan rezim, atau menghentikan aktivitas teroris,” kritik Richard Blumenthal.
Senator lainnya Chris Murphy mengatakan, pemerintahan Trump memperkirakan akan ada korban jiwa AS lebih lanjut dalam konflik di Timur Tengah, sehingga keterlibatan tersebut tampak tidak memiliki batas waktu yang jelas.
Anggota DPR Jason Crow mengkritik pernyataan Rubio terkait keputusan menyerang Teheran dan menegaskan bahwa tidak ada ancaman dari Iran yang membenarkan serangan pilihan Presiden Trump tersebut.
AS bersama Israel melancarkan operasi militer skala besar ke Iran yang dimulai pada 28 Februari 2026. Operasi itu merupakan bagian dari eskalasi besar konflik Timur Tengah yang melibatkan serangan udara dan rudal terkoordinasi. (dan)












