INDOPOSCO.ID – Pelaku usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK) didorong melirik potensi hilirisasi sawit di luar minyak goreng. Dengan ratusan produk turunan yang tersedia, komoditas itu menawarkan nilai tambah tinggi yang selama ini belum tergarap maksimal oleh sektor kerakyatan.
Ketua Bidang Budidaya Direktorat Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Togu Rudian Saragih mengajak para pelaku usaha untuk membuktikan secara nyata manfaat positif kelapa sawit.
“Kami mau mengajak bagaimana supaya sawit itu baik tidak hanya sekadar kata-kata, tapi memang benar Bapak Ibu rasakan bahwa sawit itu baik,” kata Togu dalam Workshop Media Temu UKMK dan Promosi Sawit Baik 2026 bertajuk “Inovasi Produk Turunan Sawit untuk Pelaku UKMK” di Depok dikutip Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, kelapa sawit merupakan komoditas strategis dengan luas sekitar 16,83 juta hektare, termasuk sekitar 3 juta hektare sawit rakyat. Artinya, ruang keterlibatan masyarakat, termasuk UKMK sangat besar dalam rantai nilai sawit.
Sementara itu, Ketua Bidang Perkebunan di Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) R. Azis Hidayat menekankan peluang usaha UKMK terbuka lebar di sektor hilir.
“Menurut data Kementerian Perindustrian ada 208 produk hilir sawit. Termasuk sabun, pembersih lantai, kosmetik, oleokimia, sampai produk pangan. Ini peluang bagi UKMK,” jelas Azis Hidayat.
Azis memaparkan konsep 5F (Food, Feed, Fuel, Fiber, dan Farmasi) yang menunjukkan luasnya spektrum produk turunan sawit. Dari minyak goreng, margarin, dan cokelat, hingga pakan ternak, biodiesel, bioavtur, pelumas, serat helm, sepatu, bahkan rompi antipeluru.
“Buahnya tidak ada yang terbuang. Dagingnya jadi minyak, cangkangnya jadi biomassa, tandan kosongnya bisa jadi serat. Semua bisa bernilai ekonomi,” ujar Azis. Sebanyak 42 persen kebun sawit dimiliki rakyat. Artinya, penguatan UKMK menjadi kunci agar nilai tambah tidak berhenti di hulu. (dan)




















