INDOPOSCO.ID – Politikus Partai Gerindra Arief Poyuono menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh dilihat sebatas pembagian makanan gratis, melainkan sebagai strategi ekonomi nasional dan kebijakan pembangunan manusia.
“MBG bukan sekadar program makan gratis. Ia adalah strategi ekonomi dan kebijakan pembangunan manusia. Dalam kerangka Produk Domestik Bruto (PDB), mungkin tercatat sebagai belanja negara, tetapi sejatinya ia adalah investasi bangsa,” kata Arief di Jakarta, Selasa (17/2/2026).
Menurut Arief, jika MBG dipandang hanya sebagai beban fiskal, manfaatnya akan terbatas. Namun, bila dianggap sebagai investasi negara terhadap pembangunan manusia, maka program ini justru menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi.
“MBG adalah investasi pada kualitas sumber daya manusia — pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang,” ujarnya.
Arief, yang juga menjabat sebagai Komisaris PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, menjelaskan bahwa gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti mampu meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran, serta memperkuat perkembangan kognitif anak. Dalam jangka panjang, dampak itu akan bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja.
“Ketika produktivitas naik, pendapatan meningkat. Saat pendapatan naik, konsumsi ikut terdorong, dan roda ekonomi bergerak lebih cepat. Jadi, MBG bukan hanya memperbesar komponen investasi (I) dalam PDB, tapi juga konsumsi rumah tangga (C),” kata Arief.
Lebih lanjut, ia menilai peningkatan produktivitas dan konsumsi akan memperkuat penerimaan pajak negara. Dengan ekonomi yang sehat, basis pajak melebar tanpa perlu menaikkan tarif. “Artinya, MBG justru memperkuat kapasitas fiskal negara itu sendiri,” imbuhnya.
Arief menilai, di tengah kondisi global yang lesu, MBG dapat menjadi pengungkit pertumbuhan domestik. “Tanpa dorongan internal seperti MBG, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tertahan di bawah 5 persen. Namun dengan investasi pada gizi, target pertumbuhan 5,39 persen di 2025 menjadi realistis,” jelasnya.
Ia juga mengutip penelitian UNICEF dan Bank Dunia yang menunjukkan bahwa setiap 1 dolar AS yang diinvestasikan dalam program makan bergizi sekolah dapat memberikan manfaat ekonomi antara 4 hingga 35 dolar AS melalui peningkatan kesehatan, pendidikan, dan produktivitas.
Penelitian terhadap sekitar 100 negara menunjukkan program makan sekolah tidak hanya meningkatkan kualitas manusia, tapi juga mendorong ekonomi lokal. “Setiap 100 ribu anak penerima program dapat menciptakan sekitar 1.500 lapangan kerja baru,” ungkapnya.
Menurut Arief, efek berantai ini memperlihatkan bahwa MBG bukan berhenti di ruang kelas, melainkan menyentuh petani, nelayan, pelaku UMKM pangan, hingga sektor logistik.
“Dapur-dapur sekolah menjadi simpul ekonomi baru yang menghubungkan kebijakan publik dengan produksi lokal. Di negara agraris seperti Indonesia, dampak bergandanya bisa luar biasa besar,” tutupnya. (dam)








