INDOPOSCO.ID – Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan terobosan besar dunia pendidikan melalui program Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Garuda. Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengatakan, program ini menjadi bukti bahwa pengembangan sumberdaya manusia (SDM) tetap menjadi agenda prioritas pemerintah.
“Latar belakang militer Presiden tidak menyurutkan perhatiannya terhadap dunia pendidikan,” ujar Fikri dalam keterangan, Minggu (1/2/2026).
Menurutnya, Presiden justru memiliki visi yang sangat spesifik untuk mengejar ketertinggalan bangsa. “Kalau Pak Presiden bukan dari kalangan pendidikan, tetapi konsentrasi tentang pendidikan, perhatian tentang pendidikan luar biasa. Sekarang bahkan diprotes gara-gara dia bikin terobosan-terobosan baru,” katanya.
Salah satu terobosan tersebut adalah Sekolah Rakyat yang dirancang khusus untuk masyarakat prasejahtera. Uniknya, program ini akan melibatkan koordinasi lintas kementerian dengan pendekatan bantuan sosial.
“Sekolah Rakyat leading sektornya bukan Kemendikdasmen, bahkan Kementerian Sosial, kenapa? Karena pendekatannya miskin. Jadi dari desil 1, desil 2, pokoknya yang miskin-miskin bahkan miskin ekstrem,” terangnya.
Legislator Partai keadilan Sejahtera (PKS) ini menegaskan, untuk menjaring bibit-bibit unggul bangsa, pemerintah menyiapkan Sekolah Garuda. Program ini disiapkan sebagai inkubator bagi siswa-siswa jenius untuk dipersiapkan menembus perguruan tinggi kelas dunia, dengan fokus utama pada bidang Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM).
“Bapak Prabowo bikin skema baru namanya Sekolah Garuda. Sekolah Garuda itu sekolah SLTA, SMA atau SMK, tapi yang ngelink (terhubung) dengan perguruan tinggi,” ucapnya.
“Karena anak-anak pintar itu harus ngelink dengan perguruan tinggi, perguruan tingginya tidak hanya di dalam negeri bahkan di luar negeri,” sambungnya.
Fikri juga menyoroti visi Presiden yang ingin mengubah orientasi pendidikan Indonesia agar lebih fokus pada penguasaan teknologi terapan. Hal ini didasari oleh kekhawatiran bahwa Indonesia semakin tertinggal dari negara-negara maju seperti Tiongkok, terutama dalam industri teknologi dan kendaraan listrik yang kini membanjiri jalanan Jakarta.
“Negara-negara lain sekarang Amerika atau Cina ya luar biasa. Ratusan ribu anak-anak Cina itu sekolahnya teknologi engineering. Jadi siap-siap makanya anak-anak nanti enggak bisa kemudian nge-game terus, begitu enggak bisa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Fikri mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengkritik kekurangan pemerintah, tetapi turut berkolaborasi dalam memajukan pendidikan. Ia mencontohkan inisiatif seorang bidan di perbatasan Sebatik yang mendirikan “Sekolah Tapal Batas” bagi anak-anak pekerja sawit yang tidak terjangkau layanan negara.
“Pendidikan itu tanggung jawab kolektif yang membutuhkan peran aktif semua pihak,” ujarnya. (nas)











