INDOPOSCO.ID – PT Pertamina EP (PEP) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) resmi memulai fase krusial dalam pengembangan infrastruktur energi nasional. Hal ini ditandai dengan pelaksanaan First Cutting Ceremony untuk fabrikasi Gas Dehydration Package di Workshop Fabricator, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat.
Proyek ini merupakan bagian dari Pengembangan Lapangan Bambu Merah (BMH) yang terintegrasi dengan Stasiun Pengumpul Cilamaya Utara (SP CLU). Seremoni pemotongan baja pertama ini menjadi simbol dimulainya pembangunan unit dehidrasi gas (DHU) dan scrubber guna meningkatkan kapasitas pemrosesan gas di wilayah kerja Subang.
Pengembangan Lapangan Bambu Merah dilaksanakan di bawah payung Optimasi Pengembangan Lapangan-Lapangan (OPLL) Bambu Merah–Cilamaya Selatan yang telah mengantongi persetujuan Authorization for Expenditure (AFE) dari SKK Migas.
Rencana teknis proyek ini mencakup Aliran Minyak: Hasil produksi akan dialirkan menuju Booster Station (BS) Cilamaya. Pemrosesan Gas: Gas akan diproses di fasilitas baru untuk memenuhi spesifikasi jual sebelum dikirim ke Stasiun Kompresor Gas (SKG) Cilamaya. Ramah Lingkungan: Air terproduksi akan dikelola melalui Water Injection Plant (WIP) di SP CLU untuk kemudian diinjeksikan kembali ke dalam bumi.
Proyek strategis ini diproyeksikan mampu mencapai produksi puncak sebesar 8 MMSCFD gas serta 300 barel fluida per hari (BLPD) atau setara 292,5 barel minyak per hari (BOPD) secara net.
Untuk mendukung target tersebut, Pertamina EP membangun sejumlah fasilitas mutakhir, di antaranya Gas Scrubber berkapasitas 8 MMSCFD. Dehydration Unit (DHU) berkapasitas 9 MMSCFD. Penambahan tiga unit Gas Compressor berkapasitas masing-masing 0,5 MMSCFD.
Manager Project Pertamina EP Zona 7, Ahmad Firdaus Fasa, menatakan tahap fabrikasi ini adalah tonggak penting bagi kesuksesan Proyek Bambu Merah.
“Kami berkomitmen melaksanakan seluruh pekerjaan dengan mengutamakan keselamatan, kualitas, dan kepatuhan terhadap regulasi. Dukungan sinergis dari semua pihak adalah modal utama mencapai target operasional,” ujar Ahmad dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Senada dengan hal tersebut, Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP Zona 7, Wazirul Luthfi, menekankan pentingnya proyek ini bagi negara.
“Ini adalah wujud komitmen kami dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional secara berkelanjutan dengan tetap mengedepankan aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment),” jelasnya.
Pekerjaan fabrikasi yang digarap oleh mitra kerja PT Bahana Karya Mandiri ini dijadwalkan berlangsung selama 280 hari kalender. Paket DHU diprediksi akan dikirim ke lokasi proyek pada September 2026.
Pertamina EP Zona 7 menargetkan seluruh rangkaian konstruksi dan commissioning tuntas sehingga fasilitas ini dapat beroperasi penuh (onstream) pada November 2026. (rmn)








