INDOPOSCO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI bergerak cepat mengawal pemulihan operasi di Blok Rokan pascagangguan pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Insiden ini menjadi perhatian serius pemerintah karena berdampak pada lifting minyak nasional di awal tahun 2026.
Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan kebocoran tersebut mengakibatkan kehilangan potensi produksi yang cukup besar. Ia pun menegaskan akan ada konsekuensi disiplin atas insiden ini.
“Di awal tahun ini mengalami ada sedikit musibah kecil di Sumatera, pipa kita bocor yang kehilangan potensi loss kurang lebih sekitar 2 juta barel di awal tahun. Saya akan langsung memberikan sanksi kepada pejabat yang ada di ESDM dan di BUMN terkait. Karena saya anggap itu sebuah betul terjadi kecelakaan, tapi ada sebuah ketidakikhtiaran dari kami,” kata Bahlil dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, belum lama ini.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman melakukan koordinasi teknis di kantor PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), Rumbai, Jumat (23/1/2026).
Laode mengapresiasi langkah mitigasi PHR, termasuk pengalihan bahan bakar (fuel switching) ke solar untuk menjaga ribuan sumur tetap beroperasi.
“Kami melihat PHR telah melakukan upaya luar biasa di lapangan. Langkah pengalihan bahan bakar pembangkit (fuel switching) ke solar serta manajemen beban listrik dengan memprioritaskan sumur-sumur utama terbukti mampu menjaga ribuan sumur tetap berproduksi di tengah keterbatasan pasokan gas,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama PHR Muhammad Arifin memastikan jajarannya dalam siaga tinggi dan telah menyiapkan skema pemulihan (recovery plan) agresif agar produksi segera melonjak kembali setelah pasokan gas normal.
“Kami berterima kasih atas dukungan penuh dari Kementerian ESDM dan SKK Migas. Gangguan eksternal ini memang tantangan berat, namun ketangguhan operasi kami telah teruji. Kami optimis, dengan pulihnya pasokan energi, kami siap melakukan ramp-up produksi untuk mengejar target yang telah ditetapkan negara,” ujarnya.
Hingga saat ini, produksi di Blok Rokan dilaporkan mulai berangsur pulih dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. (rmn)




















