INDOPOSCO.ID – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan, pentingnya transformasi besar-besaran di perguruan tinggi dalam mencetak lulusan siap kerja. Pasalnya, dunia kerja global kini mengalami pergeseran signifikan dengan mengutamakan keterampilan (skill) spesifik ketimbang sekadar ijazah formal.
Ia menilai disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah peta kebutuhan industri secara drastis. “Dunia kerja saat ini mengalami pergeseran luar biasa. Kampus harus mampu merespons kebutuhan industri, terutama skill AI, digital, dan teknologi baru lainnya,” ujar Yassierli dalam keterangan , Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, tantangan penyerapan tenaga kerja di era Kabinet Merah Putih tidak lagi menjadi tanggung jawab satu kementerian semata. Pemerintah kini mengedepankan sinergi lintas sektoral, termasuk kolaborasi dengan kementerian teknis seperti Kementerian Pertanian untuk penguatan sektor agraria.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan program magang nasional bagi 100 ribu lulusan perguruan tinggi. Program inisiatif Presiden RI tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman kerja nyata selama enam bulan.
“Program magang ini memberikan exposure langsung ke dunia kerja. Antusiasmenya sangat tinggi dan insya Allah berlanjut hingga 2026 sebagai jembatan lulusan baru menuju dunia profesional,” jelasnya.
Namun demikian, Menaker juga menyoroti persoalan skill mismatch. Berdasarkan data, sekitar 70 persen lulusan baru dinilai belum sepenuhnya siap memasuki dunia kerja, khususnya di sektor digital. Padahal, secara global diproyeksikan akan tercipta sekitar 170 juta lapangan pekerjaan baru hingga 2030.
“Permintaan talent digital terus meningkat, tetapi suplai belum siap sepenuhnya. Profesi baru seperti AI digital talent hingga social media developer bahkan belum dikenal lima tahun lalu. Ini pekerjaan rumah bersama,” tegas Yassierli. (nas)












