INDOPOSCO.ID – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) perkuat kualitas layanan, tata kelola program, serta percepatan pelaksanaan riset Tahun Anggaran 2026. Dengan menghimpun masukan dari perguruan tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan, bahwa keberhasilan riset dan pengembangan memerlukan kolaborasi yang erat antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci, agar hasil riset semakin berdampak bagi masyarakat serta berkontribusi pada penguatan daya saing nasional,” kata Brian dalam keterangan, Sabtu (3/1/2025).
Direktur Jenderal (Dirjen) Riset dan Pengembangan (Risbang) Fauzan Adziman menambahkan, meski peringkat Indonesia pada Global Innovation Index (GII) turun satu tingkat secara keseluruhan, kinerja pada aspek innovation output justru menguat.
“Indonesia tercatat naik 8 peringkat (dari posisi 67 ke 59 dari 135 negara) serta dikategorikan sebagai innovation overperformer, yakni negara dengan kinerja inovasi yang melampaui tingkat perkembangan ekonominya,” ujarnya.
“Kami ingin lebih banyak mendengarkan masukan dari perguruan tinggi, apa kendalanya, apa yang perlu disederhanakan, dan pengalaman di lapangan, agar menjadi dasar perbaikan kebijakan dan layanan ke depan,” sambungnya.
Dia mencatat sejumlah capaian strategis sepanjang 2025. Sekitar Rp2 triliun pendanaan riset telah disalurkan 51 persen kepada PTN (perguruan tinggi negeri) dan 49 persen kepada PTS (perguruan tinggi swasta) yang diarahkan untuk mendukung program prioritas nasional.
“Ada 8 industri strategis, meliputi pangan, energi, kesehatan, maritim, pertahanan dan ketahanan bencana , digitalisasi, manufaktur dan material maju, serta hilirisasi dan industrialisasi,” bebernya. (nas)









