INDOPOSCO.ID – Serikat Pekerja PT Pelayaran Nasional Indonesia (SP Pelni) melantik Pengurus Pimpinan Pusat periode 2025–2028 pada Rabu (10/12/2025). Dalam momentum ini, organisasi pekerja tersebut menegaskan pentingnya membangun hubungan industrial yang lebih kolaboratif di tengah tantangan sektor pelayaran nasional.
Ketua Umum SP Pelni Sayed Mansyur menekankan perlunya pendekatan yang menempatkan dialog sosial dan penyelesaian berbasis win-win solution bagi perusahaan dan pekerja. Menurut dia, kondisi industri yang dinamis menuntut semua pihak meningkatkan kepercayaan dan saling memahami.
“Arah serikat saat ini penting dan perlu mengedepankan kolaborasi dengan perusahaan untuk memastikan keberlanjutan hubungan kerja dan kesejahteraan pekerja. Pendekatan dialog sosial adalah jalan tengah terbaik bagi semua pemangku kepentingan. Sekali lagi, perlu dibangun mutual trust, understanding, dan respect,” ujar Sayed dalam sambutannya.
Presiden Konfederasi Sarbumusi, Irham Ali Saifuddin, menilai SP Pelni memiliki posisi strategis di sektor maritim Indonesia. Ia mengingatkan bahwa peran Pelni sebagai penyelenggara transportasi laut sangat vital dalam menjaga konektivitas antarwilayah di negara kepulauan terbesar di dunia.
“Indonesia merupakan negara maritim terbesar di dunia, bukan hanya karena garis pantainya yang terpanjang kedua, tetapi juga karena kita memiliki 17.000 pulau. Konektivitas Indonesia sangat bergantung pada Pelni,” ujar Irham.
Ia menambahkan kontribusi sektor maritim terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) saat ini berada di kisaran 7–8 persen. Dengan potensi laut dan pulau yang begitu besar, angka tersebut dinilai masih dapat meningkat hingga 15–20 persen.
“SP Pelni bukan hanya menjaga hubungan industrial yang baik, tetapi juga berkontribusi pada produktivitas dan keberlanjutan perusahaan serta ekosistem transportasi maritim kita. Sarbumusi berkomitmen menjadi jembatan penguatan kapasitas SP Pelni,” katanya.
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Pelabuhan dan Strategis Nasional, Farudi, menilai harmonisasi hubungan industrial di Pelni telah menunjukkan kemajuan. Ia mendorong SP Pelni untuk semakin aktif dalam isu sektoral pelabuhan dan ketenagakerjaan nasional.
“Mendorong partisipasi aktif SP Pelni di sektoral pelabuhan, Jakarta, dan Indonesia sangat penting. Salah satunya melalui kolaborasi dalam menghadirkan hubungan industrial sektoral yang substantif, adaptif, dan progresif,” ujar Farudi.
Menurut dia, hingga saat ini manajemen Pelni dan SP Pelni telah berhasil membangun hubungan industrial yang harmonis dan produktif. Hal itu perlu terus dijaga seiring meningkatnya kebutuhan terhadap layanan transportasi laut yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Pelantikan pengurus baru SP Pelni ini diharapkan menjadi titik awal penguatan peran serikat dalam mendukung transformasi Pelni sebagai tulang punggung konektivitas maritim nasional. (ibs)








