INDOPOSCO.ID – High Altitude Platform Station (HAPS) Entertainment menyandang predikat juara pada lomba Kolintang Purnomo Yusgiantoro Center (PYC). Dia mengungguli 4 finalis lainnya, yaitu The Forte, Sanggar Maazani, Spensabaya, dan Beelintang.
Ketua Umum PYC, Filda Citra Yusgiantoro mengatakan, bahwa kompetisi yang dilaksanakan terdiri atas dua tahap. Tahap pertama adalah Seleksi Video, yang menggunakan sistem eliminasi sehingga terpilih lima finalis.
“Tahap kedua adalah Final. Di mana kelima finalis akan adu kemampuan dan keterampilan untuk menjadi kelompok terbaik,” ujar Filda dalam keterangan, Minggu (7/12/2025).
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, pelaku seni, pemerhati budaya, dan generasi muda untuk mendukung upaya pelestarian Kolintang. “Kami bangga dapat menghadirkan musik klasik dalam format Kolintang. Ajang ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam perjalanan musik tradisional Indonesia, di tingkat nasional maupun internasional,” kata Filda.
Hal yang sama diungkapkan Tokoh Kolintang Nasional, Lis Purnomo Yusgiantoro. Dia mengaku senang atas terselenggaranya perlombaan musik Kolintang pertama, yang khusus mempertandingkan musik klasik di Indonesia.
“Ini adalah bentuk apresiasi kami pada alat musik tradisional Kolintang dari Minahasa, Sulawesi Utara,” kata Lis.
Perempuan yang berperan besar memperjuangkan Kolintang mendapatkan pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia ini aktif melestarikan dan mengembangkan alat musik tradisional Kolintang. Baik melalui konser tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Lis, sebagai warisan budaya tak benda UNESCO, Kolintang memiliki nilai historis dan musikal sangat tinggi. Namun, lanjutnya, belum pernah ada kompetisi yang menempatkan Kolintang di panggung musik klasik era 1600–1900 secara formal.
“Lomba Kolintang PYC menghadirkan terobosan baru dengan memberikan ruang bagi para pemain Kolintang untuk menampilkan kemampuan interpretasi musik klasik Peter I. Tchaikovsky: Piano Concerto No. 1, sekaligus lagu nasional dalam format ansambel,” ujar dia.
Ia mengatakan, kehadiran para juri lintas disiplin ilmu pengetahuan, menjadikan kompetisi ini tidak hanya prestisius, tetapi juga membuka ruang dialog musikal antara tradisi dan modernitas. Dan menjawab tantangan regenerasi dan apresiasi pada musik tradisional, di tengah derasnya arus modernisasi.
“Lomba ini kami persembahkan bagi kelompok Kolintang di seluruh Indonesia, dengan harapan dapat mendorong tumbuhnya bibit-bibit musisi Kolintang baru. Dan, membuka ruang apresiasi bagi masyarakat, menjaga keberlangsungan Kolintang sebagai warisan budaya tak benda UNESCO,” ungkapnya.
Sebelumnya, Purnomo Yusgiantoro Center (PYC) menggelar lomba Kolintang PYC memperebutkan Piala Bergilir Lis Purnomo Yusgiantoro di Jakarta.
Lomba bertema “Senandung Ansambel Kolintang untuk Dunia” diikuti 5 finalis untuk mempertandingkan musik klasik dalam format Kolintang. Kelima finalis itu terdiri atas Sanggar Ma’zani Sombor, Squad Kolintang Spensabaya, BeeLintang, The Fore, dan HAPS Entertainment. (nas)




















