INDOPOSCO.ID – PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) secara resmi meluncurkan ekspor perdana dua model andalannya, Suzuki Fronx dan Suzuki Satria, dalam sebuah seremoni di fasilitas produksi Suzuki Plant Cikarang. Peresmian ini menjadi momentum strategis bagi Suzuki dalam memperkuat peranan Indonesia sebagai pusat produksi dan ekspor yang memiliki posisi penting dalam jaringan manufaktur Suzuki di kawasan Asia Tenggara.
Dalam kesempatan tersebut, President Director PT Suzuki Indomobil Motor – PT Suzuki Indomobil Sales, Minoru Amano, menyampaikan bahwa ekspor perdana kedua model ini merupakan pencapaian yang memiliki dampak jangka panjang terhadap keberlanjutan operasi Suzuki di Indonesia.
“Peresmian ekspor perdana Fronx dan Satria tidak hanya menunjukkan kemampuan kami dalam menghadirkan produk berkualitas global, tetapi juga mencerminkan komitmen Suzuki dalam memperkuat kontribusi Indonesia sebagai basis produksi strategis di Asia Tenggara. Kami optimistis langkah ini akan berpengaruh positif terhadap penguatan daya saing industri otomotif nasional,” ujar Amano.
Acara ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Perindustrian RI, Faisol Riza, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah mendukung penuh langkah Suzuki dalam memperluas kapasitas ekspor. Menurutnya, peresmian ekspor dua model ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat struktur industri manufaktur nasional, khususnya di sektor otomotif yang menjadi salah satu industri prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
Pada sesi konferensi pers, manajemen Suzuki memberikan penjelasan lengkap mengenai perencanaan ekspor kedua model tersebut. Suzuki menargetkan total ekspor kumulatif mencapai 180 ribu unit hingga tahun 2027, dengan komposisi sebagai berikut, rencana ekspor kumulatif 2023–2027, yakni Suzuki Fronx (30 ribu unit), Suzuki Satria (150 ribu unit).
Serta rencana volume Tahunan Fronx (10 ribu unit per tahun dan Satria (40 ribu unit).
Pihak Suzuki menjelaskan bahwa strategi ekspor akan dilakukan secara bertahap mengikuti dinamika permintaan di pasar regional, kemampuan rantai pasok, serta optimalisasi kapasitas produksi di fasilitas manufaktur Suzuki di Indonesia.
Pada fase awal, Suzuki akan memfokuskan kegiatan ekspor ke enam negara di kawasan Asia Tenggara, yaitu, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Menurut Suzuki, pemilihan negara-negara tersebut mempertimbangkan stabilitas permintaan, karakteristik pasar yang sesuai dengan model yang diekspor, serta adanya peluang pertumbuhan yang didukung oleh infrastruktur distribusi yang sudah mapan di masing-masing negara.
Menanggapi pertanyaan media mengenai kesamaan spesifikasi dan varian model ekspor dengan varian yang dijual di pasar domestik, Suzuki menjelaskan bahwa setiap model akan mengalami penyesuaian untuk memenuhi berbagai ketentuan teknis, regulasi keselamatan, standar emisi, serta preferensi konsumen di masing-masing negara tujuan.
Untuk kendaraan roda empat, Suzuki saat ini mengekspor beberapa model dalam bentuk CBU, private export, maupun CKD, yaitu, All New Ertiga, New Carry dan XL7.
Sementara itu, untuk kendaraan roda dua, Suzuki mengekspor model Suzuki Satria, termasuk berbagai varian yang disesuaikan dengan kondisi pasar negara tujuan.
Suzuki menegaskan bahwa kedua model ekspor ini memiliki tingkat kandungan lokal yang tinggi. Model Suzuki Fronx diproduksi dengan komponen lokal mencapai 63 persen, sedangkan Suzuki Satria memiliki tingkat kandungan lokal mencapai 82 persen.
Tingginya kandungan lokal tersebut menunjukkan semakin kuatnya kapasitas industri komponen dalam negeri, sekaligus mencerminkan kesiapan Indonesia dalam mendukung produksi kendaraan dengan standar kualitas internasional. Suzuki menyatakan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari kerja sama yang erat antara produsen komponen lokal dan jaringan manufaktur Suzuki.
Peresmian ekspor perdana ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan ekspor nonmigas Indonesia. Suzuki menilai bahwa kegiatan ekspor tidak hanya berdampak pada peningkatan devisa negara, tetapi juga memberikan manfaat pada berbagai sektor pendukung seperti industri komponen, logistik, distribusi, serta penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur.
Suzuki menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program pemerintah dalam mendorong penguatan daya saing industri otomotif nasional melalui investasi berkelanjutan, inovasi teknologi, serta peningkatan kapasitas produksi.
“Kami melihat bahwa Indonesia memiliki fondasi industri yang kuat untuk menjadi pusat produksi otomotif di kawasan. Suzuki akan terus meningkatkan kontribusi melalui pengembangan produk, peningkatan efisiensi operasional, serta perluasan pasar ekspor di berbagai negara,” tutup Amano. (Eva)










