INDOPOSCO.ID – Presiden mahasiswa UIN RMS Surakarta Sadam Agusti Dwi Ardiyan, menilai bahwa pembangunan nasional pada masa kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, memiliki pengaruh besar terhadap arah pembangunan Indonesia, khususnya dalam bidang infrastruktur, pendidikan, dan stabilitas ekonomi.
Menurut Sadam, salah satu ciri kuat pemerintahan Soeharto adalah fokus terhadap pembangunan fisik dan ekonomi nasional melalui pendekatan terpusat yang bertujuan menciptakan pemerataan hasil pembangunan di berbagai wilayah Indonesia.
“Warisan pembangunan infrastruktur yang digagas pada masa Orde Baru seperti jalan raya, bendungan, pelabuhan, dan jaringan listrik telah menjadi tulang punggung konektivitas nasional hingga kini. Banyak daerah yang pada masa itu mulai terkoneksi dan terbuka akses ekonominya,” ujar Sadam dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (5/11/2025).
Sadam menambahkan, selain infrastruktur fisik, Soeharto juga menaruh perhatian besar terhadap pembangunan manusia melalui sektor pendidikan. Program seperti Inpres SD (Instruksi Presiden Sekolah Dasar) menjadi salah satu tonggak penting dalam perluasan akses pendidikan dasar di seluruh pelosok negeri.
“Kebijakan pembangunan sekolah dasar secara masif melalui program Inpres menjadi bukti nyata komitmen pemerintah saat itu terhadap pemerataan pendidikan. Program ini meningkatkan angka partisipasi sekolah dan memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak di daerah terpencil,” jelasnya.
Dari sisi stabilitas ekonomi, Sadam menilai bahwa kebijakan pemerintah pada masa itu berhasil menciptakan iklim ekonomi yang relatif stabil, terutama pada periode 1970–1990-an, ketika Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi yang konsisten.
“Melalui kebijakan pembangunan jangka panjang seperti Repelita dan konsep Trilogi Pembangunan yakni pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas nasional Indonesia mengalami kemajuan ekonomi yang signifikan. Hal ini menjadi dasar bagi banyak kebijakan pembangunan pascareformasi,” ungkap Sadam.
Namun, Sadam juga menekankan pentingnya melihat sisi lain dari sejarah tersebut secara proporsional. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pada masa Soeharto juga diiringi dengan sejumlah tantangan, seperti ketimpangan sosial dan keterbatasan ruang demokrasi.
“Tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan pembangunan pada masa itu juga menyisakan pekerjaan rumah dalam hal pemerataan dan kebebasan politik. Karena itu, pembacaan sejarah perlu dilakukan secara objektif dengan menghargai capaian sekaligus belajar dari kekurangannya,” tambahnya.
Sadam berharap generasi muda dapat meneladani semangat kerja keras dan perencanaan jangka panjang yang menjadi ciri khas era Soeharto, tanpa mengabaikan nilai-nilai demokrasi dan partisipasi publik yang kini menjadi bagian penting dalam tata kelola pemerintahan.
“Kita bisa mengambil pelajaran bahwa keberhasilan pembangunan memerlukan arah yang jelas, konsistensi kebijakan, dan komitmen terhadap kesejahteraan rakyat. Namun, di era sekarang, itu harus dibarengi dengan transparansi, partisipasi, dan keadilan sosial,” pungkas Sadam. (ibs)









