INDOPOSCO.ID – Rektor Universitas Nasional (Unas) El Amry Bermawi Putera menyampaikan, setiap mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan memiliki kewajiban untuk menjaga sikap toleransi dalam kehidupan kampus.
Pernyataan tersebut diungkapkan Juru Bicara Unas, Selamat Ginting dalam keterangan, Sabtu (8/11/2025). Ia mengatakan, tidak ada ruang bagi ujaran kebencian, diskriminasi, atau tindakan yang merendahkan kelompok tertentu.
“Unas terus berupaya menciptakan suasana akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan bagi seluruh warganya,” katanya.
Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media Rektor Unas ini menjelaskan, sebagai institusi pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai kebangsaan, Unas membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menempuh pendidikan tanpa memandang SARA (Suku, Agama, Ras, Antar-golongan).
Menurutnya, prinsip kesetaraan menjadi dasar dalam penerimaan mahasiswa dan seluruh proses akademik. Dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika melahirkan generasi yang berpikir terbuka dan menghargai keberagaman.
“Melalui dialog terbuka yang dimonitor Rektorat Unas, menghadirkan perwakilan IMAPA (Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua) se-Jadetabek (Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi), keluarga mahasiswa, dan pihak UNAS pada Kamis (6/11/2025) kemarin,” ungkapnya.
“Unas secara persuasif dan kekeluargaan telah menyelesaikan persoalan yang sempat terjadi pada Senin (3/11/2025) kemarin. Pertemuan ini menjadi bukti nyata, Unas membuka ruang komunikasi yang solutif, dan berorientasi pada nilai keadilan serta kemanusiaan,” sambungnya.
Dalam pertemuan kekeluargaan tersebut, masih ujar dia, perwakilan mahasiswa Papua di Unas, anggota IMAPA Sesilius Maubak , Ketua IMAPA Se-Jadetabek Semifon Arikson Kambue, menyampaikan apresiasi kepada pihak Unas yang telah memfasilitasi penyelesaian permasalahan dengan baik.
“Mereka menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan menolak segala bentuk rasisme yang dapat memecah belah bangsa. Ini bisa menjadi contoh bagi kampus lain dalam memberikan rasa aman, adil, dan nyaman bagi seluruh mahasiswa tanpa memandang latar belakang suku, ras, bahasa, maupun agama,” terangnya.
Menurutnya, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh sivitas akademika Unas dan pihak lain, agar tidak menoleransi tindakan diskriminasi, kekerasan, maupun ujaran kebencian di lingkungan kampus. Setiap pelanggaran ditindak sesuai prosedur, dan menjamin hak korban untuk melanjutkan pendidikan di Unas.
Diketahui, kasus yang terjadi akibat kesalahpahaman dalam komunikasi di grup WA tugas mata kuliah, mahasiswa tanpa sadar mengeluarkan narasi yang berpotensi menimbulkan rasisme. “Ini sudah diselesaikan dengan cara musyawarah dan kekeluargaan, dengan menghadirkan seluruh pimpinan tingkat fakultas, program studi, dosen pembimbing akademik, dosen pengampu mata kuliah yang bersangkutan serta mahasiswa yang berselisih paham di dalam komunikasi,” jelasnya.
Dia menambahkan, semua pihak mengapresiasi langkah cepat kampus dalam menjembatani komunikasi antara pihak kampus dan mahasiswa yang berselisih paham. Semua pihak bersepakat mengedepankan semangat kekeluargaan, musyawarah, dan kebersamaan.
“Tujuannya agar peristiwa serupa tidak terulang kembali, serta menjadi pengingat pendidikan adalah hak semua warga bangsa tanpa memandang SARA,” katanya.
Ia mengungkapkan, Unas juga secara aktif memperkuat semangat toleransi dan persaudaraan antarwarga kampus. Melalui kegiatan lintas budaya, pembelajaran multikultural, mahasiswa diajak memahami pentingnya hidup berdampingan dalam perbedaan.
“Kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan dimulai dari kegiatan PLBA (Pengenalan Lingkungan Budaya Akademik), perkuliahan multikulturalisme, diskusi interaktif lintas budaya,” ujarnya.
Sebelumnya, Sekjen Papua Connect Pace, Cang Waicang menyampaikan apresiasi kepada Unas yang menginisiasi perundingan tersebut. Sekaligus mengimbau kepada adik-adik mahasiswa Papua di Jakarta senantiasa menunjukkan semangat persaudaraan satu Indonesia.
Ia menilai, pertemuan tersebut menjadi bukti, berjalannya komunikasi yang edukatif dan persuasif dalam penyelesaian masalah. “Kami melihat Unas telah memberikan solusi yang adil dan bermartabat untuk semua pihak. Harapan kami, Unas dapat menjadi pionir dalam mendukung mahasiswa Papua dapat mencapai cita-cita, meraih gelar sarjana, dan berkontribusi bagi Indonesia,” ujar Cang Waicang. (nas)








