• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Ekonomi

PGE Tegaskan Panas Bumi sebagai Fondasi Transisi Energi Asia dan Jawaban atas Trilema Energi

Ali Rachman Editor Ali Rachman
Kamis, 9 Oktober 2025 - 18:01
in Ekonomi
PGE

Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Yurizki Rio (kedua dari kiri) pada ajang Asia New Vision Forum (ANVF) 2025 di Singapura, September lalu. Foto: Dokumen PGE

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) menekankan peran Asia, khususnya Indonesia, dalam menavigasi keseimbangan antara energi fosil dan energi terbarukan. Dalam konteks ini, panas bumi dinilai sebagai fondasi utama transisi energi bersih, bukan hanya di tingkat nasional dan regional, tetapi juga global. Panas bumi juga diyakini sebagai jawaban atas ‘trilema energi’. Terlebih, Indonesia memiliki cadangan sekitar 24 gigawatt (GW), setara dengan 40 persen dari total potensi panas bumi dunia.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Yurizki Rio pada ajang Asia New Vision Forum (ANVF) 2025 di Singapura, September lalu.

BacaJuga:

Inabuyer B2B2G Expo 2026, Panggung Strategis UMKM Tembus Rantai Pasok Nasional

Purbaya “Jual” Stabilitas Indonesia ke Dunia, Investor Berebut Sinyal

Efek Domino Perumahan, BTN Ungkap Dampak Besar bagi Ekonomi Nasional

“Hari ini, Asia tidak hanya berbicara soal dekarbonisasi, tetapi juga bagaimana menyeimbangkan kembali bauran energi. Energi fosil masih menjadi tulang punggung listrik baseload di banyak negara untuk menjaga ketahanan, dengan porsi sekitar 80% dari kebutuhan energi Asia. Namun, di saat bersamaan, permintaan listrik di kawasan ini terus melonjak. Untuk mencapai target iklim, Asia Tenggara perlu melipatgandakan investasi energi bersih hingga lima kali lipat, yakni menjadi sekitar US$190 miliar per tahun pada 2035. Ini adalah lompatan besar yang menunjukkan betapa mendesaknya akses terhadap modal baru,” ungkap Yurizki dalam paparannya, Jumat (12/9/2025).

Ia menegaskan bagi Asia, transisi energi bukan sekadar menambah kapasitas gigawatt dari sumber terbarukan, tetapi juga memastikan listrik tetap tersedia dan industri tetap kompetitif. Dalam konteks ini, panas bumi dipandang sebagai sumber energi bersih yang ideal. Memiliki karakter sebagai sumber energi lokal yang andal dan tersedia sepanjang waktu, panas bumi tidak bergantung pada kondisi cuaca seperti angin atau matahari. Keunggulan ini memungkinkan negara-negara secara bertahap mengurangi ketergantungan pada batu bara tanpa harus mengorbankan stabilitas sistem energi.

“Transisi energi yang lebih luas harus mampu menjawab apa yang saya sebut sebagai ‘trilema energi’, yaitu keterjangkauan, keandalan, dan keberlanjutan. Jika salah satu terabaikan, maka akan menimbulkan instabilitas, setidaknya di Indonesia. Panas bumi secara alami menjawab ketiga aspek tersebut, yakni bersifat bersih dan berkelanjutan, andal sebagai baseload, serta dengan struktur pembiayaan yang tepat, tetap terjangkau dalam jangka panjang,” jelas Yurizki.

Transisi energi tidak mungkin terwujud tanpa proyek berskala besar yang bankable. Pembangkit listrik, jaringan transmisi, hingga interkoneksi lintas batas membutuhkan pendanaan masif. Tantangan utamanya bukan pada ambisi, melainkan pada pembiayaan.

Menurut International Energy Agency (IEA), Asia-Pasifik perlu melipatgandakan investasi energi bersih hingga tiga kali lipat dalam kurang dari satu dekade, dari US$770 miliar saat ini menjadi lebih dari USD2,3 triliun per tahun pada 2030.

Yurizki menilai Indonesia menghadapi kebutuhan serupa. “Setiap tahun dibutuhkan sekitar US$20–25 miliar di sektor energi, terutama untuk panas bumi, surya, dan hidro. Khusus panas bumi, meskipun andal, pembiayaannya sangat besar. Satu sumur produksi dapat menelan biaya hingga USD5 – 6 juta, sementara risiko eksplorasi membuat banyak investor ragu untuk terlibat,” ujarnya.

Yurizki mengatakan, PGE terus menjaga disiplin finansial dan memastikan proyek-proyek tetap bankable, sehingga menjadi mitra kredibel bagi modal internasional. “Bagi kami, kolaborasi bukan sekadar pendanaan, tetapi juga berbagi keahlian, membangun proyek bersama, dan menciptakan ekosistem energi bersih regional yang saling menguntungkan,” tambahnya.

Indonesia kerap dijuluki ‘Saudi Arabia of geothermal’ berkat cadangan melimpah. Namun nyatanya, hingga kini baru sekitar 2,6 GW yang dimanfaatkan. Padahal, setiap USD1 miliar investasi panas bumi tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan industri pengeboran, rekayasa, dan ekonomi lokal dengan multiplier effect hingga 1,25 kali. Hilirisasi panas bumi bahkan membuka peluang diversifikasi produk, seperti green hydrogen dan green ammonia.

“Energi terbarukan bukan hanya solusi iklim, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi. Di Asia, investasi hijau telah menciptakan jutaan pekerjaan, menarik modal global, dan membangun industri domestik. Bagi Indonesia, pengembangan panas bumi tidak hanya membersihkan jaringan listrik, tetapi juga memperkuat rantai pasok dan kapasitas teknologi lokal,” jelas Yurizki.

Guna mengoptimalkan pemanfaatan panas bumi, PGE juga tengah mengembangkan pendekatan beyond electricity, memanfaatkan panas bumi untuk industri hijau sekaligus produk turunan yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

Langkah strategis ini ditegaskan melalui peluncuran Pilot Project Green Hydrogen (Hidrogen Hijau) Ulubelu pada 9 September lalu. Proyek ini menjadi bagian penting dari upaya PGE membangun ekosistem green hydrogen secara end-to-end, mulai dari produksi, distribusi, hingga pemanfaatannya untuk mendukung transisi menuju industri rendah karbon. (srv)

Tags: panas bumipgeTransisi EnergiTrilema Energi

Berita Terkait.

Inabuyer
Ekonomi

Inabuyer B2B2G Expo 2026, Panggung Strategis UMKM Tembus Rantai Pasok Nasional

Kamis, 16 April 2026 - 02:26
Purbaya
Ekonomi

Purbaya “Jual” Stabilitas Indonesia ke Dunia, Investor Berebut Sinyal

Rabu, 15 April 2026 - 22:02
Dirut
Ekonomi

Efek Domino Perumahan, BTN Ungkap Dampak Besar bagi Ekonomi Nasional

Rabu, 15 April 2026 - 20:10
hulu
Ekonomi

Dampak Berganda Industri Hulu Migas: Dari DBH hingga Penguatan Ekonomi Lokal

Rabu, 15 April 2026 - 18:18
sawit
Ekonomi

Ekonomi Sirkular Dorong Industri Sawit Lebih Ramah Lingkungan

Rabu, 15 April 2026 - 15:03
PLN-NP
Ekonomi

PLN NP Tancap Gas, Amankan Listrik Nasional di Tengah Ancaman Krisis Energi Global

Rabu, 15 April 2026 - 11:41

BERITA POPULER

  • Pegawai-Kementan

    ASN Kementan Sulap Lahan Marginal Perumahan Jadi Sumber Pangan Keluarga

    2515 shares
    Share 1006 Tweet 629
  • Gelar Halalbihalal, Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah Satukan 1.108 Anak Cicit

    899 shares
    Share 360 Tweet 225
  • Bea Cukai Bangun Sinergi Pengawasan Lintas Instansi di Makassar dan Banda Aceh

    844 shares
    Share 338 Tweet 211
  • Persis vs Semen Padang: Duel Membara di Zona Bawah

    796 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Hadiri Acara Halalbihalal Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah, Begini Pesan HNW 

    763 shares
    Share 305 Tweet 191
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.