• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Disway

Tumbuh 2 D

Juni Armanto Editor Juni Armanto
Selasa, 10 Agustus 2021 - 05:05
in Disway
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Baru sekarang saya tahu: mengapa di sekitar Lebaran lalu Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan selonggar-longgarnya.  Sampai tempat rekreasi seperti Ancol, Jakarta kebanjiran turis lokal. Sampai beredar foto viral di media sosial (medsos) Pantai Ancol padat manusia.

BacaJuga:

Pengusaha Pilihan

Weda Bay

Bali Lombok

“Ini akan bisa seperti India,” komentar di medsos saat itu. Prihatin. Ngeri. Kebayanglah apa yang belum lama terjadi di India. Ketika ratusan ribu orang melakukan ritual terjun ke Sungai Gangga.

Lalu terjadilah gelombang kedua Covid-19 di sana. Pandemi gelombang dua itu begitu hebat. Sampai nama virusnya pun menakutkan: varian India –sebelum akhirnya nama itu diubah menjadi varian D.

Mengapa saat itu PSPB dilonggarkan? Saya membayangkan: seandainya saya presiden, apakah saya juga akan melonggarkan PSPB? Jawabnya bisa ”iya” dan bisa ”tidak”.

Pak Jokowi, sebagai presiden, kelihatannya juga berada di tengah-tengah: mudik dilarang tapi pulang kampung boleh.

Hasil pelonggaran PSPB saat itu terlihat sekarang: pertumbuhan ekonomi Kuartal II 2021 menjadi positif. Bahkan positifnya sangat tinggi.  Mengejutkan banyak orang: 7,07 persen. Itu kalau dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu: minus 5,32 persen.

Siapa pun yang menjadi pemerintah saat Lebaran itu pasti berpikir keras: bagaimana menyelamatkan wajah ekonomi Indonesia. Yang sudah empat kali kuartal tumbuh negatif. Berturut-turut.

Negatif dua kali saja sudah dikategorikan resesi. Apalagi sudah empat kali. Data itu akan hidup abadi: Indonesia tumbuh negatif empat kali kuartal. Benar-benar bahaya. Tidak boleh lima kali. “Apa pun risikonya,” mungkin begitu jalan pikiran pembuat skenario.

Tentu tidak terbayangkan kenyataan yang terjadi melampaui apa yang diskenariokan. Sampai nggegirisi: pernah sehari angka penderita Covid kita mencapai 50.000; angka kematian 2.000. Sampai kita beberapa kali menjadi rekor dunia.

Itu juga akan dicatat sebagai data abadi. Di bidang kesehatan. Kini pemerintah tentu lega: ekonomi tumbuh 7,07 persen. Cukup tinggi. Stigma selalu negatif pun hilang.

Pertumbuhan ekonomi, di masa pandemi, ternyata bisa disetel. Tergantung order: mau negatif atau positif. Maka setiap kali melihat ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) baru baiknya kita hubungan dengan pertumbuhan ekonomi. Lebih tepatnya ke soal penyelamatan wajah.

Mungkin sudah bisa jadi pola: PPKM tingkat berapa yang akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi berapa persen.  Jadi, Kuartal III nanti positif atau negatif? Yang bukan ekonom mungkin sudah mulai bisa ikut-ikutan meramal –lewat pemberlakuan level PPKM.

Saya sungkan untuk ikut bergembira merayakan pertumbuhan tinggi itu. Yakni sungkan kepada keluarga korban yang meninggal dunia. Begitu banyak teman saya yang meninggal. Yang kaya raya –punya banyak Ferrari–, yang miskin –loper koran–, yang profesor –ahli kebidanan–, dan banyak lagi.

Tapi saya juga tidak ikut-ikutan mencela pertumbuhan 7,07 persen itu. Memang ada yang bilang 7,07 persen itu kecil sekali. Terutama bila dibanding negara lain seperti Singapura (14 persen), India (17 persen), dan banyak lagi yang pertumbuhannya belasan persen.

Bagi saya bisa tumbuh 7,07 persen saya syukuri –secara diam-diam. Jangan sampai kedengaran keluarga korban Covid-19. Pertumbuhan tinggi itu disamping dari pergerakan masyarakat, juga berkat belanja negara.

Pengeluaran negara memang lebih besar di kuartal itu. Memang, di saat ekonomi lemah negara harus banyak belanja –kalau punya uang. Jadi, kegiatan mengecet ulang pesawat kepresidenan pun perlu dilakukan.

Jangan ikut teori Pakar Kelirumonologi Jaya Suprana. Yang dalam keadaan krisis kita harus prihatin. Jangan menghamburkan dana. Pak Jaya Suprana belakangan tampak jauh lebih sehat dibanding lima tahun lalu. Jaya Suprana berteori –secara canda– bahwa harusnya pemerintah lebih berhemat. Instead of mengecat pesawat, seharusnya pemerintah justru harus mengerok habis cat di pesawat kepresidenan itu. Agar pesawat lebih ringan –bisa lebih hemat bahan bakar. (*)

Tags: disway

Berita Terkait.

Kanan Dalam
Disway

Pengusaha Pilihan

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Weda Bay

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Bali Lombok

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Rocky Gerung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Polsek Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 08:00
disway
Disway

Jumling Suyudi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 08:00

OLAHRAGA

Bank Mandiri Borong Gelar Liga Jasa Keuangan (LJK) 2026, Tim Putri Cetak Threepeat
Olahraga

Bank Mandiri Borong Gelar Liga Jasa Keuangan (LJK) 2026, Tim Putri Cetak Threepeat

Editor Laurens Dami
Senin, 12 Oktober 2026 - 15:10

INDOPOSCO.ID — Final Liga Jasa Keuangan (LJK) bank bjb 2026 menjadi panggung bagi dua tim bola basket Bank Mandiri untuk...

SelengkapnyaDetails
Dari Morbidelli hingga Veda Ega, Panggung Pertamina Jadi Magnet Penggemar MotoGP

Dari Morbidelli hingga Veda Ega, Panggung Pertamina Jadi Magnet Penggemar MotoGP

Minggu, 11 Oktober 2026 - 19:28
Kapolri Mutasi Jajaran Polda Banten, Ini Daftar Lengkapnya

Bukan Sekadar Rebut Gelar, Turnamen Biliar FWUMKM Perkuat Sinergi Wartawan dan Pemerintah

Minggu, 11 Oktober 2026 - 16:34
Hadi-Tj

Hadi Tjahjanto Sebut Negara Eropa Jadi Pesaing Terberat Karateka Indonesia di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 18:48
forki

Bekal Juara di Vietnam, Hadi Tjahjanto Optimistis Timnas Karate Bidik 6 Emas di Polandia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:09

BERITA POPULER

  • Sinergi Bea Cukai-Bareskrim Berbuah Manis, 5 Kg Sabu Berhasil Diamankan di Bogor

    Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1061 shares
    Share 424 Tweet 265
  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    920 shares
    Share 368 Tweet 230
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    889 shares
    Share 356 Tweet 222
  • Jelang Final, Jay Idzes Terus Suntikkan Semangat untuk Skuad Garuda

    982 shares
    Share 393 Tweet 246
  • Pernyataan SBY Gugatan PHPU Salah Alamat, Analis: MK Bisa Nilai Keabsahan Pencalonan Gibran

    885 shares
    Share 354 Tweet 221
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.