• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nasional

Pakar: Berpikir Dulu sebelum Mengetik di Medsos

Redaksi Editor Redaksi
Kamis, 10 Juni 2021 - 19:38
in Nasional
indoposco

Ilustrasi - Sosial media. (Dok Indopos.co.id)

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Ketua Lembaga Riset Siber Indonesia CISSReC Doktor Pratama Persadha mengingatkan netizen berpikir dahulu sebelum memainkan jari untuk menulis pesan di dunia maya dengan tetap menjaga kesopanan.

“Pasalnya, hasil riset Microsoft menyebutkan tingkat kesopanan netizen Indonesia terendah di Asia Tenggara,” kata Pratama Persadha melalui percakapan WhatsApp kepada ANTARA di Semarang, Kamis (10/6/2021) dalam rangka Hari Media Sosial yang diperingati setiap 10 Juni sejak 2015.

BacaJuga:

Untuk Pemudik, Siapkan Diri! Puncak Arus Balik Lebaran Diprediksi 24 Maret 2026

Ketua DPR RI: Idulfitri 1447 H, Momentum Pererat Kebersamaan untuk Indonesia yang Lebih Baik

RI Kirim Pasukan ke Gaza, Prabowo Tegaskan Bukan untuk Melucuti Hamas

Berdasarkan riset Microsoft yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020, Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara, atau lebih baik daripada warganet Meksiko.

Netizen Indonesia dianggap tidak sopan di dunia maya, menurut Pratama, karena tidak ada edukasi sejak dini dari negara. Pada kurikulum pendidikan, misalnya, tidak ada yang mengajarkan bagaimana berinternet yang sehat, aman, dan produktif.

“Yang ada adalah norma budaya dan agama, tentunya tidak cukup. Apalagi, para orang tua, pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, dan tokoh agama ini ‘kan bukan native digital, mereka tidak mengenal lebih dalam dunia digital,” katanya.

Ia mengutarakan bahwa negara tidak bisa sendiri, masyarakat, kampus, dan pegiat siber harus berperan serta mengedukasi anak bangsa ini di berbagai lapisan.

“Ini penting karena pendekatan peningkatan berinternet yang positif dan sehat harus berjalan top down maupun bottom up,” kata pria kelahiran Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ini.

Apalagi, kata Pratama, saat ini pengguna internet kian melesat, sebanyak 202 juta atau sekitar 73 persen dari total jiwa penduduk Indonesia.

Begitu juga dengan pemakai media sosial di Indonesia, berdasarkan data dari We Are Social pada Januari 2021 mencapai 170 juta orang.

Ia menyebutkan pemakaian paling banyak saat ini adalah YouTube dengan jumlah 93 persen dari total pengguna media sosial.

Pasalnya, kata dia, karena saat membeli ponsel android, sudah otomatis terinstal YouTube. Urutan berikutnya, Instagram 86 persen dan Facebook 85 persen.

Ada pula aplikasi perpesanan yang paling banyak digunakan, yaitu WhatsApp yang masih merajai sebanyak 87 persen, disusul Facebook Messenger dan Line.

PR Pemerintah

Pekerjaan rumah (PR) untuk pemerintah, lanjut Pratama, harus membuat media sosial lokal sehingga negara tidak tergantung dan tidak mudah ditekan oleh medsos asing.

“Pemerintah mesti menyiapkan sumber daya untuk mewujudkannya. Hal ini penting dalam jangka panjang untuk kepentingan nasional,” kata Pratama yang juga dosen pascasarjana pada Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN).

Menurut dia, seharusnya pemerintah bisa membuat regulasi agar negara segera membangun media sosial nasional, buatan dalam negeri yang khusus untuk masyarakat Indonesia. Hal ini agar memudahkan pengawasan sekaligus menjadi aplikasi substitusi bagi media sosial populer.

“Tanpa memiliki aplikasi medsos substitusi, sulit kiranya bagi negara untuk menarik pajak yang pantas bagi Facebook, Google, dan media sosial lainnya,” kata pakar keamanan siber dari Communication and Information System Security Research Center (CISSReC) ini.

Kasus Google dan Facebook, misalnya, harus dikenai pajak yang tinggi oleh pemerintah karena kedua medsos ini sudah banyak menarik uang dari masyarakat Indonesia untuk keperluan beriklan di platform tersebut.

Pratama menyarankan pemerintah berpihak juga pada pengembangan produk teknologi lokal, seperti janji Presiden RI Joko Widodo, dengan membangun 1.000 startup baru, termasuk salah satunya membuat startup pada platform medsos dan aplikasi perpesanan.

Dengan demikian, kata Pratama, pemerintah gampang menarik pajak dan menegakkan hukum ketika platform asing melanggar hukum di Indonesia. (bro)

Tags: cissrecHari Media Sosialmedia sosialmedsossosmed

Berita Terkait.

Untuk Pemudik, Siapkan Diri! Puncak Arus Balik Lebaran Diprediksi 24 Maret 2026
Nasional

Untuk Pemudik, Siapkan Diri! Puncak Arus Balik Lebaran Diprediksi 24 Maret 2026

Jumat, 20 Maret 2026 - 23:41
Ketua DPR RI: Idulfitri 1447 H, Momentum Pererat Kebersamaan untuk Indonesia yang Lebih Baik
Nasional

Ketua DPR RI: Idulfitri 1447 H, Momentum Pererat Kebersamaan untuk Indonesia yang Lebih Baik

Jumat, 20 Maret 2026 - 22:33
RI Kirim Pasukan ke Gaza, Prabowo Tegaskan Bukan untuk Melucuti Hamas
Nasional

RI Kirim Pasukan ke Gaza, Prabowo Tegaskan Bukan untuk Melucuti Hamas

Jumat, 20 Maret 2026 - 19:16
Termasuk Yaqut, 67 Tahanan KPK Ikuti Salat Idul Fitri
Nasional

Termasuk Yaqut, 67 Tahanan KPK Ikuti Salat Idul Fitri

Jumat, 20 Maret 2026 - 17:45
10 OTT Kepala Daerah Jadi Cermin, KPK Soroti Pola Korupsi Berulang
Nasional

10 OTT Kepala Daerah Jadi Cermin, KPK Soroti Pola Korupsi Berulang

Jumat, 20 Maret 2026 - 17:30
Aturan Baru Terbit, SPPG Kini Wajib Kelola Limbah MBG
Nasional

Aturan Baru Terbit, SPPG Kini Wajib Kelola Limbah MBG

Jumat, 20 Maret 2026 - 16:46

BERITA POPULER

  • Yuniar

    BPN Jawa Barat Instruksikan Seluruh Kantor Pertanahan Buka Selama Cuti Bersama

    2630 shares
    Share 1052 Tweet 658
  • Dukung Kenyamanan Ibadah, Alfamidi-Unilever Kembali Bersihkan Ratusan Masjid di Indonesia

    821 shares
    Share 328 Tweet 205
  • Dinilai Sakit Jiwa Fans ENHYPEN Dikecam karena Rencana Aksi Gangguan Terkait Hengkangnya Heeseung

    806 shares
    Share 322 Tweet 202
  • Kasus Andrie Yunus, Amnesty Singgung Warisan Jokowi dan Ancaman Otoritarianisme

    713 shares
    Share 285 Tweet 178
  • Oknum TNI Ditangkap Usai Diduga Jual Senjata Organik ke Papua Nugini

    710 shares
    Share 284 Tweet 178
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.