• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Headline

Kisah Meriam ‘Besar’ Karbit dari Tepian Kapuas Jelang Lebaran

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 12 Mei 2021 - 23:31
in Headline
indoposco

Warga menghidupkan meriam ‘besar’ karbit di Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Foto: Antara/HO

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Suasana tepian Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) pada malam menjelang Lebaran memiliki tradisi sendiri. Dentuman meriam ‘besar’ karbit saling bersahutan, menyongsong kumandang takbir Hari Idulfitri 1442 Hijriah.

Bunyi dentuman meriam itu sesungguhnya sudah terdengar sejak awal Ramadan di Kelurahan Bansir Laut, di tenggara Kota Pontianak, terutama saat malam usai ibadah shalat tarawih. Bunyinya pun semakin bersahutan pada Rabu (12/5/2021) lepas kumandang Azan Maghrib, tanda dimulainya suka cita menyambut Idulfitri.

BacaJuga:

Prabowo Lantik 9 Pejabat dalam Reshuffle ke-8, Ini Daftar Lengkapnya

Prabowo Lantik Kristomei Sianturi Jadi Kepala BNPB, Gantikan Suharyanto

KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi BNPB, Salah Satunya Adik Suharyanto

Meriam karbit diyakini ada sejak tahun pertama kelahiran Kota Pontianak, yakni pada 1771. Sejarahnya dimulai ketika pendiri Pontianak Sultan Syarief Abdurrahman Alqadrie hendak membangun kota. Dia harus mengusir makhluk halus yang selalu mengganggu dengan membunyikan meriam karbit.

Sejak itu, tradisi membunyikan meriam karbit berlanjut hingga ratusan tahun kemudian dan bahkan hingga kini. Jumlah kelompok permainan meriam karbit pun terus bertambah dan kini telah mencapai sekitar 40.

Mereka tersebar di sejumlah gang di tepian Sungai Kapuas, baik yang berada di pusat Kota Pontianak yakni Kecamatan Pontianak Kota dan Pontianak Tenggara, maupun di sekitar Keraton Kadriah, tempat awal berdiri pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak, di Kecamatan Pontianak Timur.

Selain dimainkan para pemukim di pinggiran Sungai Kapuas, permainan meriam karbit juga digelar dalam bentuk festival pada tiap awal Ramadhan hingga tibanya Idulfitri. Sejak Pandemi Covid-19 pada 2020, festival itu dihentikan.

Pemerintah Kota Pontianak memutuskan tak menggelar festival karena khawatir akan menjadi jalan penularan Covid-19. Karena dalam setiap gelaran festival, ratusan, bahkan ribuan orang berkumpul di tepian Kapuas. Mereka akan memenuhi di gertak-gertak pinggir sungai dan di gang-gang penghubung menuju ke tempat festival.

Tahun inipun demikian. Pemerintah Kota (Pemkot)m Pontianak belum mengizinkan digelarnya festival karena ternyata pandemi belum berakhir. Menghadapi kenyataan itu, masyarakat masih bisa bersyukur, karena Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengizinkan permainan meriam karbit pada Ramadhan hingga Idulfitri 1442 Hijriah. Boleh bermain, asalkan dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 secara ketat.

“Silakan bermain (meriam karbit, red) asalkan dengan protokol kesehatan yang ketat,” kata Edi Kamtono pada medio April 2021 dilansir Antara.

Maka, bersuka citalah masyarakat di pinggiran Sungai Kapuas. Mereka pun menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat meriam. Ketika telah selesai, dentuman meriam kembali saling bersahutan di kawasan pinggiran Sungai Kapuas.

Dari Kayu Bengkirai

Di Gang Bansir II tak jauh dari tepian sungai, para laki-laki, mulai dari remaja, dewasa, hingga paruh baya, berbondong-bondong membuat meriam karbit dari kayu bengkirai.

Kayu bengkirai yang semula dua bagian itu disatukan agar membentuk meriam. Sebagian menarik setengah bagian kayu dan sebagian mendorongnya agar menyatu dengan bagian yang telah tergeletak di tanah. Anak-anak bertubuh mungil bersorak-sorai mendukung para lelaki tersebut agar kuat menyatukan kedua bagian kayu.

Kayu dengan tingkat kekuatan kelas satu dan dua yang nyaris setara dengan kayu jati itu akan disatukan dengan paku. Bagian yang membelah dua bagian akan ditutup dengan kain dan setelahnya diperkuat lagi dengan lilitan rotan halus di setiap bagian dari ujung ke ujung meriam.

Meriam karbit yang telah dibuat akan dihias dengan cat dan lampu. Di sekitar area permainan meriam juga akan disediakan pentas khusus untuk pengunjung.

“Persiapan pembuatan meriam karbit ini kurang lebih satu bulan dari awal Ramadhan, tapi sebelum Ramadhan juga sudah ada persiapan, meskipun tidak seintens ketika Ramadhan,” kata Muhammad Erlangga, salah satu Remaja Melayu Bansir.

Pemuda yang akrab disapa Angga tersebut menyebut proses pembuatan meriam karbit yang juga merupakan ikon Kota Pontianak itu hasil dari kerja gotong-royong masyarakat asli Gang Bansir II dan Gang Bansir III. Biasanya mereka membuat lima hingga enam meriam setiap tahunnya.

Pembuatan meriam karbit di dua gang daerah Bansir Laut telah dilakukan turun-temurun. Setiap pembuatan selalu diajarkan dari generasi ke generasi. Angga sendiri telah terbiasa membantu proses pembuatan meriam karbit atas ilmu dari sang paman.

“Jadi kami diajarkan supaya tidak putus budaya yang sudah ada sejak zaman terbentuknya Kota Pontianak ini. Sejak kecil ibaratnya kami dibimbing oleh generasi yang istilahnya senior dari kami,” katanya.

Proses terbentuknya meriam karbit tidak hanya berkat gotong-royong yang dilakukan para lelaki masyarakat Bansir, tetapi juga masyarakat dari Gang Bansir II dan Gang Bansir III, berupa sumbangan demi memeriahkan malam takbiran sebelum Hari Idulfitri.

Pada malam-malam Ramadan, sesekali meriam karbit juga dihidupkan untuk diuji coba agar dentumannya meriah ketika hari puncak tiba, yakni di malam takbiran.

Pandemi Festival Ditiadakan

Sejak awal Pandemi Covid-19 dan tersebar luas pada Maret 2020, kegiatan yang menciptakan kerumunan ditiadakan, termasuk Festival Meriam Karbit yang diselenggarakan pada malam takbiran menjelang Idulfitri. Hal ini menyebabkan masyarakat kedua Gang Bansir hanya membuat tiga meriam karbit.

Jumlah meriam mengalami penurunan juga karena dipengaruhi sukarnya mencari kayu dan sokongan dana dari masyarakat dari kedua gang yang bergotong-royong. Sehingga meriam karbit yang dibuat tahun ini berasal dari kayu bengkirai yang telah digunakan pada tahun sebelumnya.

“Kalau dulu proposal dana lebih mudah, pengunjung yang berasal dari penjuru Pontianak juga lebih ramai. Sekarang dana lebih sulit dan pengunjung dibatasi, mungkin hanya warga sekitar, namun tetap meriah dan ramai meskipun tidak seperti sebelumnya saat ada festival,” tutur Angga.

Segala prosesi dan hiasan terhadap meriam karbit tetap ditampilkan, seperti ketika festival dijalankan. Hanya saja penyalaan meriam karbit tidak seperti sebelum Pandemi Covid-19.

Dengan diizinkannya permainan meriam karbit saat ini, bagi Angga adalah pelipur lara di tengah Pandemi Covid-19. Karena kecemasan akan pandemi, bisa terobati dengan suka cita bermain meriam.

“Harapannya tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya, penonton lebih ramai untuk memeriahkan penyalaan meriam karbit dan budaya juga tidak hilang atau terkikis meski ada Covid-19,” kata Angga.

Sementara di sisi lain, Pemkot Pontianak menyadari permainan meriam karbit harus tetap dilestarikan karena telah menyatu dengan kehidupan masyarakat, terutama bagi mereka yang bermukim di tepian Sungai Kapuas.

Saat ini ada 40 kelompok permainan meriam karbit yang selalu aktif bermain saat Ramadhan, dan mengikuti setiap festival yang digelar pemerintah kota. Komunitas meriam karbit menerima keputusan tak boleh digelarnya festival. Mereka memahami bahwa dalam menghadapi Pandemi Covid-19 harus dilakukan secara bersama-sama.

Permainan meriam karbit telah menjadi warisan budaya tak benda di Kota Pontinak, karena itu harus tetap dilestarikan. Namun dengan kondisi Pandemi Covid-19, kerumunan masyarakat pencinta permainan meriam karbit harus dihindari. Maka dari itu, mari bersabar hingga pandemi berakhir. (aro)

Tags: IdulfitriKalbarlebaranpontianak

Berita Terkait.

bowo
Headline

Prabowo Lantik 9 Pejabat dalam Reshuffle ke-8, Ini Daftar Lengkapnya

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:45
sianturi
Headline

Prabowo Lantik Kristomei Sianturi Jadi Kepala BNPB, Gantikan Suharyanto

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:16
KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi BNPB, Salah Satunya Adik Suharyanto
Headline

KPK Tetapkan 5 Tersangka Korupsi BNPB, Salah Satunya Adik Suharyanto

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:07
Mendagri Minta Pemda Perkuat Peran Diskominfo dalam Komunikasi Strategis dan Efektivitas Kebijakan Publik
Headline

Terima Aspirasi Pemakzulan Gibran, PKS Minta Fraksi Jalin Komunikasi Lintas Partai

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:42
Mendagri Minta Pemda Perkuat Peran Diskominfo dalam Komunikasi Strategis dan Efektivitas Kebijakan Publik
Headline

Jampidsus Ungkap Strategi Kejagung Berantas Korupsi dan Pulihkan Aset Negara

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:21
pks
Headline

Polemik Ijazah Gate Mengemuka, PKS Dorong DPR Tindak Lanjuti Temuan MK

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:13

OLAHRAGA

esi
Olahraga

PB ESI 2026–2030 Fokus Ubah Potensi Generasi Digital Jadi Prestasi Dunia

Editor Laurens Dami
Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:07

INDOPOSCO.ID - Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) resmi melantik kepengurusan baru untuk masa bakti 2026–2030. Langkah itu menjadi momentum...

SelengkapnyaDetails
Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

Hasil Liga Champions: Liverpool Pesta Gol, PSG Mengamuk di Markas City

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:57
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Mandalika Mendunia, Pertamina Apresiasi Kolaborasi di Balik Sukses MotoGP 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:51
Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Anggota DPR Kecam Kekerasan terhadap Tim EPA Persib Bandung di Batang

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:40
Tobat Ekologis, Menag Ajak Umat Bersahabat dengan Alam

5 Emas Asian Games Jadi Alarm Evaluasi, Okto Dorong Pembenahan Sistem Olahraga

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:30

BERITA POPULER

  • Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    Daftar Harga Mobil Elektrifikasi Wuling 2026, dari Aira EV hingga Wuling Darion EV

    945 shares
    Share 378 Tweet 236
  • Gempa Bumi Getarkan Banyumas di Jawa Tengah, Pusat Episenter 25 Km dari Kota

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Darion dan Eksion PHEV Wuling Raih Pengakuan di FCR 2026

    890 shares
    Share 356 Tweet 223
  • Hendra Kurniawan Pimpin Polda Banten, Hengki Lanjut ke Jabar

    1063 shares
    Share 425 Tweet 266
  • Pengusaha Pilihan

    726 shares
    Share 290 Tweet 182
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.