• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Gaya Hidup

Ramadan: Jangan Mendadak “Bagong”

Redaksi Editor Redaksi
Rabu, 28 April 2021 - 15:55
in Gaya Hidup
Agung SS Raharjo.

Agung SS Raharjo.

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Agung SS Raharjo

INDOPOSCO.ID – Badan pangan dunia (FAO) pada tahun 2016 merilis data fakta yang cukup miris, bahwasannya hampir sepertiga jumlah pangan yang diproduksi dunia menjadi food lose (hilang) dan food waste (terbuang). Tercatat jumlah pangan yang hilang dan terbuang tersebut mencapai 1,3 miliar ton atau setara nilai USD1 triliun setiap tahunnya. Dan menurut FAO (2018), sumber dari persoalan pangan yang terjadi di negara berkembang lebih banyak terjadi pada tahap pre-consumption, sementara di negara maju lebih banyak terjadi pada tahap consumption. Economist Intelligence Unit pada tahun 2016 pun memberitakan hal serupa tentang food waste, berdasar informasi yang dipublis fakta menunjukkan bahwa orang Indonesia rata-rata menghasilkan sampah makanan hingga 300 kg per orang tiap tahun. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai runner-up pemborosan makanan setelah Arab Saudi dengan rata-rata angka sebesar 427 kg makanan per orang per tahun. Tentunya hal ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah agar mencegah pemborosan dan pembuangan pangan terus terjadi.

BacaJuga:

theAsianparent Awards 2026 Umumkan Produk Ibu dan Anak Pilihan Keluarga Indonesia

MAKA Grup Kembali Gelar MAKA Fest, Hidupkan Semangat Tumbuh SAMA-SAMA

Hotel GranDhika Indonesia Raih Penghargaan Layanan Terbaik di Danantara CX100 2026

Fenomena pemborosan pangan di negeri ini telah mengundang rasa miris tersendiri. Dalam tata nilai sosial dan religi pun perilaku tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan. Terlebih kemudian dihadapkan pada peristiwa kehidupan lain yang menimbulkan paradoksal yaitu kemiskinan dan kelaparan. Dalam laporan Global Hunger Indeks (GHI) tahun 2020, Indonesia mencatatkan capaian sejarahnya lolos dari level “serius” dan masuk dalam kategorii moderat. Indonesia meraih skor 19,1 dan berada pada urutan ke 70 dari total 107 negara. Posisi peringkat Indonesia terhitung lebih baik dari Kamboja, Myanmar dan India. Namun masih tertinggal dari Thailand, Malaysia dan Philipina bahkan dengan Vietnam. Capaian ini pada satu sisi perlu mendapat apresiasi dan disaat yang sama menjadi titik tolak evaluasi atas pola konsumsi yang telah menjadi kebiasaan bahkan membudaya di negeri ini.

Mendadak “Bagong”

Food waste, menurut WHO, didefinisikan sebagai makanan yang siap dikonsumsi namun dibuang tanpa alasan atau makanan tersebut telah mendekati masa kadaluarsa. Sedangkan istilah food loss sendiri diartikan sebagai sebuah kindisi hilangnya sejumlah pangan antara rantai pasok produsen dan pasar. Food loss sendiri disebabkan oleh banyak faktor misalkan pada proses pra-panen, permasalahan dalam penyimpanan, penanganan, dan lainnya.

Berfokus pada persoalan pemborosan pangan (food waste) dinegeri ini, ada fenomena klasik yang masih saja kita temui pada momen Ramadan. Bulan Ramadan dimana umat muslim diwajibkan atasnya berpuasa, bersabar menahan lapar dan dahaga ternyata tidak selalu demikian adanya ketika menjelang berbuka. Dapat kita temui sebagian diantara kita yang begitu antusias menyiapkan menu berbuka hingga terkadang tidak sadar jika sudah terlalu berlebihan. Obsesi untuk menikmati beragam menu, berujung pada pemborosan dan kesia-sian. Sedangkan kapasitas perut sangat terbatas untuk memenuhi unsur makanan, minuman dan udara. Akibat “kerakusan’ sesaat tersebut tetiba fisiologis perut sebagian diantara kita bertansformasi menjadi perut “bagong” akibat kekenyangan. Alih-alih akan menjadi sehat, yang terjadi justru membawa potensi penyakit tersendiri.

Imam Syafi’I pernah berkata, dalam Siyar A’lam An-Nubala, “Karena kekenyangan (memuaskan nafsu perut dan mulut) membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah.”

Puasa Ramadan yang semestinya mampu menjadi kontrol atas konsumsi pangan yang seringkali berlebihan namun ternyata tidak demikian adanya. Konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang pemborosan makanan yang cukup besar di bulan Ramadan. Dan ini menjadi problematika klasik yang terus saja terjadi berulang kali. Bantargebang Integrated Waste Treatment Site, berdasarkan data mencatatkan peningkatan sampah makanan hingga 10% selama bulan Ramadan. Bahkan pernah ditemui kondisi, pada hari pertama puasa, tercatat ada tambahan sampah sebanyak 864 ton.

Kesadaran Diri

Ramadan bertujuan membentuk insan bertakwa (la’allakum tattaqun). Esensi ketakwaan salah satunya adalah menjadi insan yang tidak berlebihan (tabzir) dalam berperilaku. Karena menjadi orang yang berperilaku boros mubadzir, dalam segala sesuatunya, tidak dibenarkan dalam Islam tak terkecuali persoalan pangan. Larangan bersikap boros memberikan pelajaran pentingnya untuk bersikap adil terhadap diri sendiri dan orang lain.

Pangan adalah kebutuhan setiap manusia dan pemenuhannya merupakan hak asasi yang tidak boleh diganggu. Negara harus memberikan jaminan atas pemenuhan ketersediaan dan keterjangkauannya sampai pada tingkat individu. Oleh karena itu perilaku food waste yang masih sering terjadi bahkan sering dianggap hal lumrah, harus dapat dikurangi sedemikian rupa.

Kesalihan pribadi harus beriring dengan kesalihan sosial. Ramadan menjadi momen bagi setiap rumah tangga dan individu untuk kembali merefleksikan kesadaran-kesadaran religious yang bernilai universal. Dimana letak kepekaan kita disaat yang lain begitu sulit mencari makan sedang kita “berpesta” sampai kekenyangan. Begitu indah terasa jika mampu menahan diri dan memberikan peran bagi penguatan ketahanan pangan dinegeri sendiri. Ramadan adalah jalan membangun rasa kepedulian. Stop food waste, dan mulailah berlaku adil memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Secukupnya tidak perlu berlebihan.

Penulis:
Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda
Pada Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian

Tags: faoFood waste

Berita Terkait.

asian
Gaya Hidup

theAsianparent Awards 2026 Umumkan Produk Ibu dan Anak Pilihan Keluarga Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:25
maka
Gaya Hidup

MAKA Grup Kembali Gelar MAKA Fest, Hidupkan Semangat Tumbuh SAMA-SAMA

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:22
grandhika
Gaya Hidup

Hotel GranDhika Indonesia Raih Penghargaan Layanan Terbaik di Danantara CX100 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 - 00:30
mnc
Gaya Hidup

Kilau Raya MNCTV 35 : Nostalgia Lagu-Lagu Terbaik Kangen Band, Pertunjukkan Drone Show dan Bambu Gila di Harmony of Kangen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:08
cgbio
Gaya Hidup

CGBIO Hadirkan Dokter Korea Selatan di Bali, Gelar Pelatihan Estetika Medis Internasional

Rabu, 21 Oktober 2026 - 06:06
sedayu
Gaya Hidup

All Sedayu Hotel Kelapa Gading, Pilihan Ideal untuk Tamu Bisnis dan Keluarga di Jakarta Utara

Rabu, 21 Oktober 2026 - 04:04

OLAHRAGA

champion
Olahraga

Hasil Liga Champions: MU Dipermak Como, Bayern Gagal Menang Atas Arsenal

Editor Nelly Marinda Situmorang
Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:10

INDOPOSCO.ID - Malam Liga Champions 2026/2027 matchday ketiga pada Rabu (21/10/2026) malam hingga Kamis (22/10/2026) dini hari WIB kembali menghadirkan...

SelengkapnyaDetails
persija

Persija vs Arema: Shin Tae-yong Siapkan Strategi Redam Singo Edan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:51
Hasil Liga Champions: Hujan Gol Tercipta, PSG hingga Liverpool Berpesta

Hasil Liga Champions: Hujan Gol Tercipta, PSG hingga Liverpool Berpesta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:16
Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Super League Membara! Macan Lapar Cari Pelampiasan, Singa Edan dan Juku Eja Siap Jadi Algojo

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:31
Jadwal Liga Champions: PSG-Barca Saling Jegal, Arsenal Uji Kekuatan Bayern

Jadwal Liga Champions: PSG-Barca Saling Jegal, Arsenal Uji Kekuatan Bayern

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:40

BERITA POPULER

  • Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    Gandeng Musisi Tanah Air, Kemendikdasmen Kian Menggelorakan Lagu Anak Lewat KICAU

    2646 shares
    Share 1058 Tweet 662
  • IWBIF 2026 Digelar di Jakarta, IWAPI Dorong Pengusaha Perempuan Indonesia Go Global

    1156 shares
    Share 462 Tweet 289
  • Debut Azka Corbuzier di New York Tuai Pujian, Film “Home, Almost” Bikin Penonton Menangis

    1097 shares
    Share 439 Tweet 274
  • Kunci Wirausaha Kuat, Ekonomi Melesat Perpres No. 38 Tahun 202

    1303 shares
    Share 521 Tweet 326
  • Usai Gempa M4,1 Guncang Bogor, Getaran Susulan hingga Malam

    1394 shares
    Share 558 Tweet 349
    Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to connect your Instagram account.

Verifikasi Dewan Pers

Status Verifikasi Dewan Pers : Administratif dan faktual dengan nomor sertifikat 1132/DP-Verifikasi/K/X/2023
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
    • Piala Dunia 2026
  • Gaya Hidup
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.