• Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers
indoposco.id
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks
No Result
Lihat Semua
indoposco.id
No Result
Lihat Semua
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
  • Koran
Home Nusantara

Menelisik Makna Ritual Tanpa Busana di Banten, Ini Kata Akademisi

Redaksi Editor Redaksi
Jumat, 12 Maret 2021 - 22:07
in Nusantara
Akademisi Universitas Ageng Tirtayasa (Untirta) Fadullah.

Akademisi Universitas Ageng Tirtayasa (Untirta) Fadullah.

Share on FacebookShare on Twitter

INDOPOSCO.ID – Warga Kabupaten Pandeglang, Banten dihebohkan dengan adanya aliran Hakekok yang melakukan ritual tanpa memakai busana. Pemujaan itu direkam oleh warga dan viral di media sosial.

Fenomena sosial ini diyakini bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, pernah muncul di beberapa daerah wilayah Banten, dengan kasus yang sama. Sebab, ritual ini merupakan warisan secara turun temurun. Yang menjadi perbincangan hangat di publik pada ritual itu adalah makna dibalik laki-laki dan perempuan secara terang benderang tidak mengenakan busana sehelaipun.

BacaJuga:

Gempa Bumi Dangkal Hantam Kendari di Sultra, Pusat Episenter 3 Km dari Kota

PTBA Bawa Semangat SDGs lewat Khitan Gratis dan Edukasi Kesehatan Anak

Aceh Selatan Dihantam Gempa Bumi Dangkal M3,6, Ini Catatan BMKG

Akademisi Universitas Ageng Tirtayasa (Untirta) Fadullah mengatakan, ritual dengan tidak memakai busana bukanlah hal yang aneh. Mengingat, kegiatan itu bukan pertama kali ditemukan di Provinsi Banten.

Ia menjelaskan, ritual dengan telanjang adalah tradisi lama. Secara pemaknaan, peribadatan tanpa busana bertujuan agar tidak ada pembatas antara pemuja dengan Tuhannya. Bahkan dalam catatan sejarah, sebelum ada pemurnian islam di Makkah, orang tawaf disekitar Ka’bah bertelanjang.

Lalu mereka mandi dengan air zam-zam dengan bertelanjang juga. Hingga akhirnya kebiasaan itu berubah seperti saat ini.

“Argumen mereka dengan bertelanjang itu adalah tidak ada pembatas antara dirinya dengan Tuhan. Kalau memakai baju itu ada pembatas. Setiap kita lahir dalam keadaan bersih, nggak ada orang lahir pakai baju. Ada muncul di Barat kembali ke alam, tidak pakai baju,” katanya saat di wawancara, Jumat (12/1/2021).

Pengikut aliran Hakekok itu beranggapan, bahwa pakaian merupakan topeng dan bersifat kepalsuan. Hakikat dari ritual itu untuk mencari jati diri. Padahal dalam persfektif agama tidak dibenarkan.

Menurut Dosen Keagamaan Untirta itu, ajaran agama dalam hal islam, memerintahkan umatnya menjaga diri dengan menggunakan pakaian, makan dan minum. Setikanya ada tiga fungsi dari pakaian, yakni identitas, pengaruh dari prilaku dan emosi.

“Itu yang mau dicapai hakikat, itu sudut pandang dia (aliran Hakekok) begitu. Kalau dalam sudut pandang agama tidak benar, karena harus ada kehormatan yang harus di jaga,” terangnya.

Ia menduga, penganut aliran Hakekot sekelompok orang terasingkan dari komunitas sosial dan tidak menjadi keutuhan masyarakat. Sehingga, mereka mencari jalan lain dari abnormal sosial.

Biasanya, motif dari pelaksanaan ritual itu untuk penyugihan, popularitas dan kuasa. Kesulitan hidup juga menjadi faktor penting dalam fenomena sosial ini. Karena beranggapan, ritual itu menjadi jalan untuk memecahkan masalah dalam hidupnya.

“Jadi pakai baju itu keluar dari kejatidirian, keluar dari keaslian. Yang bener itu dalam persfektif ini (aliran hakekok) tidak pakai baju. Tapi perintah agama tidak begitu, diperintahkan unutk berpakaian, makan dan minum,” ujarnya.

“Gejala begini sudah lama dari dulu. Setiap mengalami krisis, awalnya dari pandemi tapi dampaknya ke ekonomi. Bukan hanya ke ekonomi, pikiran dan seterusnya, jadi orang setres. Lalu dia ingin mencari jati diri jalan keluar dari situasi ini,” jelasnya.

Fadullah menilai kegiatan itu bagian dari fenomena sosial atau budaya yang diturunkan. Ritual itu dapat disebut penyimpangan dari agama jika pemujaan itu disebut Islam Hakekok. Alasannya, akulturasi budaya animisme dan dinamisme masih melekat di wilayah Banten.

“Kalau ini Islam Haqiqoh (Hakekok), ada islam di depan. Kita sebut sebuah penyimpangan agama, karena islam tidak mengajarkan seperti itu. Ini bagian dari persembahan baru kelihatan berdoa sambil telanjang. Peritiwa bertelanjang itu sudah lama dan itu universal. Bukan hanya di Pandeglang, itu banyak pecinta alam yang melampaui batas itu sampai bertelanjang,” tukasnya. (Son)

Tags: Aliran SesatHakekokHakekok BalakasutaPandeglangRitual

Berita Terkait.

Memasuki Musim Kemarau, Hujan Masih Berpotensi Guyur Sebagian Wilayah Jakarta Hari Ini
Nusantara

Gempa Bumi Dangkal Hantam Kendari di Sultra, Pusat Episenter 3 Km dari Kota

Rabu, 15 April 2026 - 08:40
BTN JAKIM 2026 Bidik Perputaran Ekonomi Rp200 Miliar, Jakarta Kian Moncer
Nusantara

PTBA Bawa Semangat SDGs lewat Khitan Gratis dan Edukasi Kesehatan Anak

Rabu, 15 April 2026 - 00:12
Aceh Selatan Dihantam Gempa Bumi Dangkal M3,6, Ini Catatan BMKG
Nusantara

Aceh Selatan Dihantam Gempa Bumi Dangkal M3,6, Ini Catatan BMKG

Selasa, 14 April 2026 - 23:06
Program Cakrawala-Recovery Sumatera
Nusantara

Cakrawala-Recovery Sumatera: Sentuhan PTBA Bangkitkan Semangat Anak Pascabanjir

Selasa, 14 April 2026 - 21:44
Rokok-Ilegal
Nusantara

Bea Cukai Sidoarjo Musnahkan 3,9 Juta Rokok Ilegal, Nilainya Tembus Rp5,9 Miliar

Selasa, 14 April 2026 - 14:54
HP
Nusantara

Disembunyikan di Dinding Truk! Bea Cukai Batam Sita 337 HP Ilegal Senilai Rp3,7 Miliar

Selasa, 14 April 2026 - 14:04

BERITA POPULER

  • Pegawai-Kementan

    ASN Kementan Sulap Lahan Marginal Perumahan Jadi Sumber Pangan Keluarga

    2512 shares
    Share 1005 Tweet 628
  • Gelar Halalbihalal, Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah Satukan 1.108 Anak Cicit

    894 shares
    Share 358 Tweet 224
  • Bea Cukai Bangun Sinergi Pengawasan Lintas Instansi di Makassar dan Banda Aceh

    844 shares
    Share 338 Tweet 211
  • Persis vs Semen Padang: Duel Membara di Zona Bawah

    795 shares
    Share 318 Tweet 199
  • Hadiri Acara Halalbihalal Keluarga Besar H. Mukhayar dan Hj. Hamidah, Begini Pesan HNW 

    762 shares
    Share 305 Tweet 191
  • Redaksi
  • Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Standar Perlindungan Wartawan
  • Sertifikat Dewan Pers

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.

No Result
Lihat Semua
  • Home
  • Nasional
  • Megapolitan
  • Nusantara
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Multimedia
    • Fotografi
    • Video
  • Disway
  • Koran
  • Indeks

© - & DESIGN BY INDOPOSCO.ID.