Ekonomi

Wall Street Jatuh, Nasdaq Anjlok

INDOPOSCO.ID – Wall Street menghapus keuntungan awal menjadi lebih rendah pada penutupan Rabu (Kamis pagi WIB), terseret aksi jual saham-saham teknologi, setelah optimisme tentang pemulihan ekonomi oleh Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell dan Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen tidak dapat menghentikan penurunannya untuk hari kedua berturut-turut.

Indeks Dow Jones Industrial Average sedikit berkurang 3,09 poin atau 0,01 persen, menjadi berakhir di 32.420,06 poin. Indeks S&P 500 kehilangan 21,38 poin atau 0,55 persen, menjadi menetap di 3.889,14 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup merosot 265,81 poin atau 2,01 persen, menjadi 12.961,89 poin.

Enam dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor jasa-jasa komunikasi dan teknologi masing-masing terpuruk 1,66 persen dan 1,21 persen, di antara yang berkinerja terburuk. Sementara itu, sektor energi melonjak 2,52 persen menyusul kenaikan harga minyak, menjadikannya kelompok dengan kinerja terbaik.

Pernyataan dua pejabat tinggi ekonomi AS mencerminkan apa yang mereka katakan kepada Kongres sehari sebelumnya, dengan Powell mengatakan pada Rabu (24/3/2021) bahwa kasus yang paling mungkin adalah 2021 akan menjadi “tahun yang sangat, sangat kuat.”

Sementara tiga indeks utama ditutup lebih rendah, investor menjual saham-saham dengan kinerja besar tahun lalu, saham teknologi yang menggandakan Indeks Nasdaq dari posisi terendah tahun lalu, dan membeli saham-saham berorientasi nilai yang di bawah harga bersiap untuk melakukan pemulihan dengan baik.

Wall Street telah bergerak maju-mundur minggu ini karena rotasi selama berbulan-bulan ke saham-saham energi dan keuangan yang sensitif secara ekonomi, yang telah diuntungkan prospek pertumbuhan ekonomi, sempat terangkat oleh penurunan imbal hasil obligasi yang mendorong naiknya saham-saham teknologi.

Imbal hasil obligasi AS 10-tahun mundur menjadi sekitar 1,6 persen, penurunan yang dalam beberapa hari terakhir telah menopang saham teknologi yang mengandalkan modal berbiaya rendah. Saham berorientasi nilai pada Rabu (24/3/2021) ditutup datar, melampaui penurunan 1,4 persen pada saham-saham pertumbuhan, termasuk saham teknologi.

Investor telah fokus pada imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan, mempertimbangkan apakah ada ruang untuk menjalankan suku bunga jangka panjang, kata Kepala Strategi Global JPMorgan Asset Management, David Kelly.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button