Nasional

Triple Disruption, Semangat Kurban dan Ibadah Haji

oleh: Mokhlas Pidono, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Banten, Sekretaris Forum Zakat (FOZ) Wilayah Banten

INDOPOSCO.ID – Kondisi ekonomi bangsa Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja. Bukan cuma Indonesia, sebagian besar negara di dunia mengalami masalah serupa. Hal ini bisa dilihat dari menurunnya daya beli, melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga dunia usaha yang semakin lesu akhir-akhir ini.

Beberapa waktu lalu, kita disuguhi fakta salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan menutup puluhan cabangnya dalam waktu dekat ini. Beban operasional yang besar untuk merawat aset dan pegawai membuat bank plat merah ini megap-megap kehabisan nafas. Belum kering lidah berdecak atas akan ditutupnya puluhan cabang sebuah bank  muncul lagi sebuah peristiwa tutupnya sebuah swalayan dalam naungan Hero Supermarket yakni Giant. Pada akhir Juli tahun ini, Giant akan menutup seluruh gerainya. Lagi-lagi, karena beban yang menghimpit sementara pemasukan sedikit, aset besar dan banyak, beban makin mencekik, akibatnya usaha tutup.

Lalu, tak lama kemudian muncul kabar, Garuda Indonesia akan mengurangi setengah armadanya, bahkan sudah menawarkan pensiun dini bagi karyawannya. Beban utangnya sudah 70 trilyun dan akan semakin membengkak jika tak segera diputuskan solusinya.

Beberapa pengamat bilang salah satu sebab usaha dengan aset besar dan banyak kompak nyaris gulung tikar karena adanya triple disrupsi. Sebuah kebiasaan baru yang mendobrak budaya lama dan bukan cuma satu, melainkan tiga, yakni Digital Disruption, Milenial Disruption dan Pandemic Disruption. Ketiga disrupsi ini menggerus cara-cara konvensional, tak membutuhkan banyak aset besar di setiap sudut, simple dan memaksa beradaptasi. Belanja atau apapun segalanya sekarang serba digital, tokonya ada dalam genggaman.

Sementara perilaku milenial dan gaya hidupnya jelas jauh berbeda dengan masa-masa non digital. Masih beradaptasi dengan dua tradisi baru yang mengubah drastis pola hidup dan transaksi, tiba-tiba muncul Pandemi yang memaksa manusia melakukan kebiasaan baru, normal baru yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Gempuran tiga disrupsi ini membuat kocar-kacir siapa saja yang belum siap menyesuaikan diri dengan situasi dan mengikuti arah kebiasaan baru ini.

Semangat Kurban dan Ibadah Haji

Setiap tantangan sebenarnya menyimpan peluang jika bisa kita sikapi dengan baik. Seperti halnya triple disruption di atas. Dalam kaitannya dengan kurban, bahkan budaya-budaya dan kebiasaan baru serba ingin mudah di atas kita bisa fasilitasi dengan tidak mengurangi nilai dari ibadah kurban itu sendiri.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button