Disway

Timur Musk

Oleh : Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Elon Musk harus mendengar ini. Tujuh tahun lamanya Widodo Sucipto memikirkan teknologi baru pengolahan nikel. Akhirnya berhasil (baca *Disway:Timur Terang ).

* Dengan demikian tidak akan ada lagi keraguan seperti yang pernah dikeluhkan Elon Musk: tidak mudah mendapatkan bahan baku yang cukup untuk baterai mobil listrik. Keluhan itulah yang membuat Tesla tidak jadi membangun pabrik mobil listrik di Indonesia. Widodo telah membalikkan keraguan orang seperti Elon Musk.

Berita Terkait

Tentu Elon Musk tidak mau memperhitungkan adanya mega-pabrik nikel yang sudah berdiri di Morowali. Yang dibangun dengan gegap-gempita oleh pengusaha Tiongkok itu.

Kurang besar? Tidak. Pabrik nikel di Morowali itu tidak menghasilkan nikel untuk bahan baku baterai lithium. Itu beda. Mega-pabrik di Morowali itu menghasilkan nikel untuk bahan baku stainless steel. Beda sekali. Segalanya tidak sama. Mulai prosesnya sampai jenis nikel yang dihasilkannya.

Dalam dunia nikel, yang dihasilkan mega-pabrik di Morowali itu disebut ”nikel kelas dua”. Yang diperlukan untuk bahan baku baterai adalah ”nikel kelas satu”. Yang tingkat kemurniannya –tarik napas– sampai 99,95 persen.

Sedang untuk bahan baku /stainless steel/ kemurnian nikelnya cukup hanya 10 atau 15 persen. Widodo tipe orang yang ulet dan setia. Pun sampai umurnya berapa 66 tahun sekarang ini. (bukan 55 tahun seperti Disway kemarin). Widodo Sucipto.Widodo dibantu oleh dua orang Jepang, satu orang Tiongkok, dan satu orang lagi dari Australia.

Tentu tidak hanya Widodo yang tahan uji. Juga Richard Tandiono (é™️³å­ ç››). Richard-lah yang membiayai semua penelitian Widodo itu. Termasuk membangun lab-nya di Bogor. Setelah penelitian skala lab dianggap berhasil Richard pula yang membangunkan pabrik skala /pilot project/.

Ketika penelitian masih di skala lab, Widodo menggunakan alat kecil. Yang cukup untuk mengolah 20 kg tanah yang mengandung nikel. Begitu skala lab berhasil dibangunlah kiln skala /pilot project/. Dengan kapasitas 1 ton bahan baku. Kiln itulah yang dipanaskan sampai 700 derajat Celsius. Bahan bakarnya gas. Hasilnya memuaskan. Seperti yang saya tulis di edisi kemarin. Bulan Juli lalu, barulah Widodo dan Richard lega.

Penelitian itu akhirnya berhasil. Richard adalah anak pemilik pabrik baterai merek Nipress. Ia cucu pendiri pabrik itu. Nipress adalah pabrik baterai terbesar di Indonesia. Yang sudah mampu ekspor ke lebih 30 negara. Saya pernah ke Nipress. Beberapa kali. Dulu. Dulu sekali.

Delapan tahun lalu. Kala itu saya merayu Richard agar Nipress bersedia memproduksi baterai jenis lithium. Yang sangat diperlukan untuk ide membuat mobil listrik. /Richard Tandiono (kiri) delapan tahun lalu./ Waktu itu Nipress masih fokus memproduksi baterai basah. Yang tidak cocok untuk mobil listrik.

Karena itu Nipress belum punya peralatan untuk memproduksi baterai lithium. Saya pun rapat-rapat di Nipress. Saya menceritakan pentingnya baterai lithium di masa depan. Saat itulah saya kali pertama bertemu Widodo. Di samping Widodo bersama tim dari Nipress hadir juga Ricky Elson dari Putra Petir. Juga ahli baterai dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), Dr Bambang Prihandoko. Yang terakhir itu saya baru tahu kemarin ternyata meninggal dunia.

Dua bulan lalu. Dr Bambang saat itu sedang meneliti air laut sebagai sumber lithium. Beliau menyebutkan air laut Jawa-lah yang terbaik kadar lithiumnya. Saya juga sudah berkunjung ke lab LIPI tempat Dr Bambang melakukan penelitian. — *Baca juga tulisan Dahlan Iskan ketika mengunjung Nipres, 8 tahun lalu: Manufacturing Hope (85):

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button