Disway

Tabah 65 Atm

Oleh: Dahlan Iskan

INDOPOSCO.ID – Duka masih terus menyelimuti Nusantara. Magnitude tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 pada Rabu (21/4/2021)!lalu memang luar biasa. Tapi saya salah ketika membayangkan 53 prajurit TNI-Angkatan Laut (AL) yang bertugas di dalam kapal itu meninggal akibat kehabisan oksigen.

Kapal itu ternyata ditemukan pecah menjadi tiga bagian di dasar laut sedalam 838 meter di bawah permukaan laut (mdpl). Berarti 53 prajurit tersebut meninggal jauh sebelum oksigen di kapal itu habis.

Berita Terkait

Kisah oksigen ini bermula ketika ada penjelasan bahwa persediaan oksigen di kapal itu hanya cukup untuk tiga hari. Yang berarti oksigen akan habis pada Sabtu (24/4/2021) pukul 03.00 WITA (Waktu Indonesia Tengah) dini hari.

Begitu Sabtu pagi belum ada kejelasan di mana posisi Nanggala, secara matematika, mereka sudah meninggal dunia –kehabisan oksigen. Atau, begitu diketahui kapal berada di kedalaman 800 mdpl, maka semuanya, secara ilmiah, pasti hancur.

Tapi begitu ada indikasi bahwa posisi kapal itu berada jauh di dalam laut, penyebab kematian tidak harus karena kehabisan oksigen.

Sebelum persediaan oksigen habis pun bisa terjadi apa pun. Terutama dikaitkan dengan tekanan atmosfer di dalam laut. Yang kian dalam, tekanan itu kian tinggi.

Kini semuanya jelas: kapal itu ditemukan di kedalaman laut 838 mdpl. Keadaannya tidak utuh lagi –terbelah menjadi tiga. Atau lebih.

Di kedalaman 800 mdpl itu tekanannya sekitar 65 Atm (Atmosfer). Atau sekitar 65,8 bar. Dalam tekanan sekuat itu kapal pasti pecah. Bahkan, menurut teori, kapal sudah mulai retak ketika memasuki kedalaman 300 mdpl. Kian dalam posisi kapal kian parah retakan itu.

Pada kedalaman 600 mdpl mestinya kapal itu sudah patah-patah.

Dari teori itu, maka persediaan oksigen tiga hari tidak ada hubungan dengan kematian 53 prajurit di kapal itu. Kemungkinan besar, di hari pertama pun mereka sudah tewas.

Yakni ketika kapal itu pecah. Bahkan, mungkin, tidak perlu menunggu satu hari. Pun satu jam.

Dalam beberapa menit saja kapal itu bisa berubah dari kedalaman 100 mdpl ke 300 mdpl. Lalu ke 600 mdpl. Akhirnya ke 800 mdpl. Dari posisi 100 ke 800 mdpl itu barangkali hanya memerlukan waktu kurang dari setengah jam.

Kalau kapal selam yang begitu perkasa saja bisa pecah menjadi tiga, bisa dibayangkan nasib tubuh manusia. Yang hanya terdiri dari unsur air dan debu. Maka, dengan tekanan 65,8 bar, tubuh manusia bisa remuk menjadi seperti air lagi. Hanya jaket mereka yang tidak hancur –kalau jaket itu plastik. Semua organ yang berongga langsung mimpes dan lumat.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button