Nusantara

Seroja dan Kisah Duka di Adonara

INDOPOSCO.ID – Daratan di Kepulauan Nusa Tenggara itu bernama Adonara. Letaknya di sebelah timur Pulau Flores yang diapit dua selat, Solor di sisi selatan dan Lowotobi di sisi barat.
Pada Minggu (4/4/2021), duka melanda pulau utama di bagian timur wilayah Flores, yakni Kecamatan Ile Boleng, Kecamatan Adonara Timur dan Kecamatan Wotan Ulumado, diterjang banjir dan tanah longsor yang dipicu kondisi Siklon Tropis Seroja.

Kurang dari sepekan, sedikitnya 71 penduduk ditemukan meninggal dunia, sebanyak dua lainnya masih dalam pencarian. Tidak kurang 50 rumah penduduk saat ini terkubur, belasan lainnya dirusak luapan sungai dan batu yang menggelinding dari lereng Gunung Ile Boleng.

Belum jelas, berapa kerugian materi yang timbul dari peristiwa nahas itu. Sebagian besar perekonomian masyarakat lumpuh setelah jembatan penghubung di Kecamatan Adorana Timur menuju pusat perniagaan di Dermaga Waiwerang Kota ambruk.

Ruas Jalan Desa Nelelamadike yang menjadi jalur utama penghubung Desa Nobo dan Desa Harunala sebagian ambles. Sulit untuk ditembus kendaraan. Jalur itu ibarat urat nadi bagi perekonomian penduduk sekitar untuk mendistribusikan hasil kebun, seperti kemiri, kakao, cabai, bawang, hingga ikan hasil tangkapan dari Laut Solor.

Suasana duka masih menyelimuti beberapa kampung di kaki Gunung Ile Boleng, Selasa (6/4/2021). Tenda-tenda didirikan di depan rumah penduduk Muslim maupun Nasrani sebagai tempat untuk memanjatkan doa bagi korban. Sejumlah lokasi evakuasi jenazah meninggal diberi tanda memakai batangan lilin yang menyala. Ada kepercayaan, bahwa api yang berpendar bisa menerangi roh di alam baka.

Pengusaha warung kelontong hingga pertokoan juga turut serta menyampaikan duka. Mereka menutup seluruh tempat usahanya sebagai rasa berkabung untuk keluarga korban. “Ini cara kami untuk menunjukkan rasa duka. Kesedihan ini juga harus dirasakan bersama,” kata Boby, pedagang es dan kue di Pasar Waiwerang Kota, yang menutup kiosnya sejak lima hari lalu.

Di belakang kios Boby, terdapat dermaga Waiwerang menuju Pelabuhan Larantuka. Aktivitas di daerah itu didominasi kedatangan relawan dari berbagai organisasi sosial. Mereka tiba di dermaga dengan membawa bantuan yang dikemas kardus dan juga karung ukuran besar. Kendaraan pikap berisi hasil perkebunan, jumlahnya bisa dihitung jari.

Trauma penduduk atas bencana alam terparah itu masih dirasakan sebagian besar penduduk di Adonara. Obrolan di kedai kopi hingga tempat ibadah tidak lepas dari musibah yang menimpa tetangga mereka. Sudah dua kali warga di sekitar dermaga dibuat panik oleh informasi bohong terkait ancaman tsunami, banjir bandang hingga longsor susulan.

“Pertama, Selasa (6/4/2021) tengah malam. Katanya akan ada tsunami susulan, sinyal HP mati. Nelayan di sekitar dermaga berlarian ke bukit. Peristiwa kedua terjadi Jumat (9/4) malam. Ada suara keras yang dikira gempa. Rupanya ada batu besar yang jatuh menimpa atap rumah warga. Kami masih takut,” kata penduduk Desa Lamahala Jaya, Amin (33) dilansir Antara.

Sementara itu, hingga hari ketiga pascabencana di Desa Waiburak, Kecamatan Adonara Timur, bantuan kemanusiaan untuk 400 lebih penduduk terdampak bencana belum sampai ke tangan penerima.

‘Uluran tangan’ saat itu justru datang dari desa tetangga ke Waiburak dan Waiwerang Kota, berupa penyediaan dapur umum untuk memasak makanan. Mereka mengatasnamakan yayasan hingga kalangan dermawan.

Beberapa keluarga korban di desa itu berjalan secara berkelompok dari desa tetangga. Tangannya menggenggam segelas plastik air mineral dan sebungkus mi instan yang diseduh langsung dalam kemasan.

Berjarak selemparan batu dari pusat Kota Waiwerang, puluhan penduduk bergotong royong membersihkan Jalan Trans-Lite dari endapan lumpur dan puing bangunan yang menutup lintasan. Tumpukan batang pohon dari Bukit Air Areng terseret hingga memenuhi beberapa titik badan jalan. Batangnya dipotong menggunakan gergaji mesin hingga ukuran terkecil agar mudah disingkirkan.

“Jangankan bantuan tenaga, makanan saja belum ada. Dari kemarin kami mencari orang hilang. Kantong mayat saja tidak diberi saat saya minta ke kantor kecamatan,” kata Ketua RT19 RW08 Dusun Riamuko B, Yosep Meli Kedang.

Beberapa warga, bahkan menyampaikan protes langsung kepada Menteri Sosial Risma Tri Rismaharini yang tiba di Kantor Kecamatan Adonara Timur, Selasa (6/4/2021). Singkat cerita, laporan itu memicu kemarahan Risma kepada pegawai di lingkup Pemerintah Kabupaten Flores Timur.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button