Olahraga

Semangat “Olimpisme” Sohn Kee-Chung Bergema Lagi Dalam Olimpiade Tokyo

INDOPOSCO.ID – Jauh sebelum dua sprinter Amerika Serikat Tommie Smith dan John Carlos mencatat sejarah lewat salut Black Power (Kuasa Kulit Hitam) dalam Olimpiade 1968, gambaran pedih lainnya mengenai protes diam terukir dalam hati nurani warga Korea yang terlupakan dunia.

Pada Olimpiade 1936 di Berlin, Sohn Kee-chung dari Korea berdiri sambil menahan malu dengan menyembunyikan bendera Matahari Terbit di dadanya dengan tanaman hias saat lagu kebangsaan Jepang memenuhi stadion untuk menghormati kemenangannya dalam nomor maraton. Momen itu membuat dirinya dipenuhi “penghinaan tak terkirakan” yang menandai awal dari sebuah bab menyedihkan dalam hidupnya, kata dia dalam otobiografinya.

Khawatir bahwa kemenangannya bakal memicu pemberontakan dari etnis Korea, Jepang yang menjajah Korea dari 1910 hingga 1945- melarang Sohn berlomba dengan berada di bawah pengawasan ketat, dan bahkan memanfaatkan statusnya yang terkenal untuk merekrut pemuda- pemuda Korea sebagai bala tentara Jepang. Sohn menyebut mobilisasi pemuda Korea itu sebagai “penyesalan terbesar” dalam hidupnya.

Namun setelah itu, Sohn tidak memendam kebencian terhadap negara bekas penindas Korea itu dan mendedikasikan hidupnya untuk mempromosikan “Olimpisme” atau perdamaian melalui olahraga, khususnya antara Jepang dan Korea, kata putranya, Chung-in, kepada Reuters dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

“Yang dia idam-idamkan adalah kedua belah pihak mengenali apa yang terjadi di masa lalu sehingga kita tidak mengulanginya dan sebaliknya menatap ke depan,” kata Chung-in, dikutip dari Antara.

Topik tidak mengenakkan hati

Di tengah hubungan bilateral pada titik nadir saat ini yang sebagian besar akibat kekejaman masa perang, pesan Sohn tetap relevan, kata Zenichi Terashima, profesor emeritus pada Universitas Meiji di Tokyo yang menerbitkan biografi pelari itu dua tahun lalu.

Untuk semua upaya rekonsiliasi Sohn, Jepang memiliki hubungan yang canggung dengan dia dan warisannya, kata Terashima yang berbicara bersama putra Sohn.

Sohn adalah pahlawan nasional Korea Selatan, tetapi hanya sedikit warga Jepang yang pernah mendengarnya, meskipun medalinya tetap menjadi satu-satunya medali emas Olimpiade dari nomor maraton putra di Jepang.

Hanya pengunjung museum Olimpiade baru di Tokyo yang bermata elanglah yang bisa melihat dua hal yang dimaksud Sohn: satu saat tampil sebagai peraih medali emas Jepang dan satu lagi sebagai pembawa obor Olimpiade untuk Olimpiade Seoul pada 1988 yang ditampilkan sebagai pelari kirab obor Olimpiade terakhir.

“Dia adalah topik yang tidak nyaman di Jepang,” kata Terashima yang mengaku terdorong mempublikasikan kisah hidup Sohn di tengah apa yang dia anggap sebagai kebangkitan revisionisme sejarah di kalangan elit konservatif Jepang.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button