Nasional

Perkawinan Korban Perkosaan, Pakar Hukum: Itu Upaya Penyelundupan Hukum

INDOPOSCO.ID – Pakar Hukum Pidana Asep Iwan Iriawan mengatakan, pemerkosaan anak di bawah umur dan pernikahan di bawah umur merupakan dua peristiwa hukum dengan sanksi yang berbeda.

“Ini (Pemerkosaan anak di bawah umum) bisa dijerat dengan KUHP dan UU Perlindungan Anak, dan ancaman hukumannya berat yakni 12-15 tahun,” ujar Asep Iwan Iriawan melalui gawai, Minggu (30/5/2021).

Ia menegaskan, keinginan pelaku yang ingin menikahi korban tidak serta merta proses pidananya berhenti. Karena, perbuatan itu merupakan proses pidana yang serius.

Berita Terkait

“Ini menyangkut pertumbuhan kembang jiwa anak atau korban,” tegasnya.

Terkait masalah perkawinan, masih ujar Iwan, telah diatur oleh UU Perkawinan. Dimana usia perkawinan 19 tahun. Dan itu harus ada izin dari orangtua atau kerelaan kedua belah pihak.

“Jadi ada peraturan perundangan yang tidak bisa dikesampingkan. Penegakan hukum harus dilakukan, apabila tidak maka bisa fatal,” katanya.

Ia menilai, keinginan pelaku untuk menikahi korban hanya upaya penyelundupan hukum. Oleh karena itu, menurutnya, proses pidana harus terus berjalan dan proses pernikahan jangan berjalan.

“Ini korban sudah diperkosa, masih anak, dan tidak ada kompensasi. Jadi jangan mau dibujuk dengan rayuan yang melanggar perundang-undangan,” ucapnya.

Sebelumnya, AT (21) pelaku pemerkosaan anak di bawah umur di Bekasi berniat menikahkan korban, sebagai bentuk tanggung jawab perbuatannya. Namun niat pelaku ditolak oleh orangtua korban. (nas)

Sponsored Content
Back to top button