Nasional

Pemerintah Jokowi harus Pastikan Vaksinasi Luas dan Merata

INDOPOSCO.ID – Berdasarkan hasil lembaga survei Indonesia (LSI) pimpinan Djayadi Hanan sebanyak 84 persen responden setuju terhadap program vaksinisasi untuk mencegah penularan virus Covid-19.

Dan hanya sebanyak 63 persen responden yang bersedia untuk disuntik vaksin yang diselenggarakan oleh pemerintah. Faktanya, baru 10 persen jumlah penduduk yang baru disuntik dalam kurun waktu enam bulan terakhir ini.

Bahkan secara detail, survey tersebut mengindikasikan bahwa vaksin dianggap masih sulit diperoleh ketersediaanya oleh masyarakat. Apabila pemerintah ingin menciptakan herd immunity dalam waktu segera di tahun ini, capaian hal tersebut masih sebuah pekerjaan berat.

“Pekerjaan utama pemerintahan Jokowi memastikan program vaksinisasi berlangsung merata dan meluas,” ungkap Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol), Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sosial Politik (LPPSP) Universitas Indonesia Aditya Perdana melalui gawai, Kamis (22/7/2021).

Dia mengatakan, DKI Jakarta ataupun Bali telah mencapai kondisi yang sangat baik dari jumlah orang yang telah divaksin. Namun daerah-daerah di pulau Jawa masih banyak yang kesulitan dalam mencapai target vaksin.

“Artinya apa? Prioritas pengendalian Covid-19 dengan vaksinisasi sudah tepat. tapi perlu memperhatikan ketersediaan dan pemerataan vaksin,” katanya.

“Pemerintah tentu memiliki data yang akurat untuk melihat daerah-daerah prioritas utama yang perlu mendapat dorongan vaksin saat ini,” imbuhnya.

Upaya pemerintah untuk mencapai target vaksinasi dua juta per hari, menurut dia, tidak mudah. Percepatan vaksinasi harus didukung oleh banyak instansi pemerintah ataupun organisasi-organisasi masyarakat, agar herd immunity segera tercipta.

“Butuh gerakan solidaritas vaksinasi secara meluas sehingga target vaksinasi bisa tercapai. Kita harus dukung gerakan ini, agar kegiatan ekonomi, sosial ataupun pendidikan dapat segera diaktifkan,” terangnya.

“Turunnya kinerja pemerintah yang dinilai oleh responden survey mengalami penurunan karena mungkin disebabkan oleh program vaksinisasi yang masih rendah partisipasinya,” imbuhnya. (nas)

Sponsored Content
Back to top button