Nusantara

Pemerhati Baduy Polisikan Mahasiswa yang Buat Video Aksi Kerusakan Alam

INDOPOSCO.ID – Video aksi mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa penjaga kelestarian alam dan budaya dengan berdurasi dua menit 43 detik, berbuntut panjang.

Sebab, aksi itu dilaporkan kepada Polda Banten atas tuduhan pencemaran nama baik suku adat Baduy.

Diketahui, bahwa video yang dibuat pada 14 Juli 2021 itu, meminta empat tuntutan. Pertama, mendesak Jendral Listiyo Sigit Prabowo untuk mencopot Kapolda Banten karena tidak mampu menjaga kelestarian alam suku Baduy.

Kedua, usut tuntas aktor intelektual dibalik penambangan liar di Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Gunung Liman yang berada di wilayah Polda Banten.

Ketiga, Usut tuntas penggunaan mercuri yang ilegal karena dianggap telah melanggar Undang-undang Nomor 11/2017 tentang pengesahan Minamata Convention On Mercury yang berdampak pada ekosistem tanah dan kesehatan setempat.

Keempat, mendukung adat suku Baduy untuk menjaga kelestarian alam dan budaya, serta menolak oknum yang mengkapitalisasi tanah adat serta budaya di Banten.

Pemerhati Baduy Uday Suhada, mengaku merasa tersinggung dengan adanya pernyataan mahasiswa yang seolah telah terjadi kerusakan alam di wilayah suku adat Baduy. Hal itulah menjadi dasar laporan dibuat.

Kemudian, salah satu tuntutan yang dilontarkan mahasiswa itu dinilai seakan ada konflik antara masyarakat Baduy dengan Kapolda Banten Irjen Rudy Heriyanto.

“Karena akan menimbulkan penilaian bahwa telah terjadi konflik antara masyarakat adat Baduy dengan Kapolda Banten. Padahal hubungan masyarakat Adat Baduy dengan Kapolda Banten terjalin dengan baik,” katanya kepada INDOPOSCO, Jumat (23/7/2021).

Menurutnya, stetmen tentang penambangan liar di Gunugn Liman dianggap menyakiti hati masyarakat Baduy. Sebab, lokasi Gunung Liman di luar wilayah uliyat suku Baduy. Di sisi lain, saat ini sudah aman dan tertib.

“Maka patut diduga, telah terjadi pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan terhadap masyarakat adat Baduy,” ungkapnya.

Lebih jauh Uday menyatakan, pernyataan dari mahasiswa itu dapat merusak citra masyarakat Baduy. Alasannya, karena tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Ia berharap, pelaporan itu menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yang membawa-bawa nama adat Baduy.

“Bahwa pernyataan sekelompok orang yang tergabung dalam aliansi mahasiswa penjaga kelestarian alam dan budaya itu juga, merupakan berita bohong (hoax) yang dapat merusak citra Baduy,” jelasnya. (son)

Sponsored Content
Back to top button