Headline

Pembunuh di FedEx Indianapolis Pernah Sakit Jiwa

INDOPOSCO.ID – Pria bersenjata yang melepaskan tembakan di lokasi FedEx di Indianapolis, yang menewaskan delapan pekerja, kemudian diri sendiri, adalah mantan karyawan berusia 19 tahun dengan riwayat penyakit mental yang menyebabkan penahanannya oleh penegak hukum tahun lalu, kata pejabat polisi dan FBI pada Jumat (16/4).

Empat anggota agama Sikh – tiga wanita dan seorang pria – termasuk di antara yang tewas dalam amukan senjata pada Kamis (15/4) malam, menurut seorang pemimpin lokal komunitas Sikh yang mengatakan bahwa dia telah diberi pengarahan oleh keluarga para korban.

Petugas penegak hukum mengatakan mereka belum segera menentukan apakah kebencian rasial atau etnis berada di balik pembunuhan itu.

Insiden – yang terbaru dalam serentetan setidaknya tujuh penembakan masal yang mematikan di Amerika Serikat selama sebulan terakhir – terjadi di pusat operasi FedEx dekat Bandara Internasional Indianapolis setelah pukul 11 malam waktu setempat, kata polisi.

Itu hanya berlangsung beberapa menit dan berakhir pada saat polisi mendatangi tempat kejadian, Craig McCartt, wakil kepala departemen kepolisian Indianapolis, mengatakan pada jumpa pers pada Jumat.

Para saksi menggambarkan serangan yang membabi buta, ketika pria bersenjata itu melepaskan tembakan dengan senapan di tempat parkir sebelum memasuki fasilitas dan terus menembak, meninggalkan korban baik di dalam maupun di luar gedung. Petugas menemukan tersangka tewas karena luka tembak yang diduga dilakukan sendiri.

Seorang juru bicara dan polisi FedEx mengidentifikasi pria bersenjata itu sebagai Brandon Hole, mantan karyawan di fasilitas tersebut. McCartt mengatakan kepada wartawan bahwa tersangka diyakini terakhir bekerja di pabrik itu pada musim gugur 2020.

Ditanya apa yang membawanya kembali ke fasilitas itu pada Kamis malam, McCartt menjawab: “Saya harap saya bisa menjawabnya.”

‘Bunuh Diri oleh Polisi’

FBI mengatakan tersangka telah ditempatkan di bawah penahanan kesehatan mental sementara oleh polisi Indianapolis pada Maret 2020 setelah ibunya menghubungi penegak hukum untuk melaporkan dia mungkin mencoba melakukan “bunuh diri oleh polisi” (bunuh diri dengan metode melakukan hal-hal yang mengancam agar dibunuh polisi).

Sebuah senapan disita dari kediamannya saat itu, dan berdasarkan “barang yang diamati di kamar tersangka pada saat itu,” dia diwawancarai oleh FBI pada April 2020, Agen Khusus FBI Indianapolis yang Bertanggung Jawab Paul Keenan mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Tidak ada ideologi ekstremisme kekerasan bermotif rasial” yang diidentifikasi selama penilaian itu, dan tidak ada pelanggaran kriminal yang ditemukan, tetapi senapan itu tidak dikembalikan kepada tersangka, kata Keenan.

Pembantaian itu adalah yang terbaru dari serangkaian penembakan massal di AS yang kembali mendorong masalah kekerasan senjata ke panggung politik.

1 2Laman berikutnya
Sponsored Content
Back to top button