Headline

Pembukaan PTM Terbatas, Pengamat: Ini Sangat Dipaksakan

INDOPOSCO.ID – Pemerintah menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, dengan skema dua hari sepekan dan dua jam setiap hari. Di beberapa daerah seperti DKI Jakarta PTM terbatas sudah dimulai hari ini (9/6/2021).

“Jelas tidak efektif. Kalau saya memilih online saja. Guru kita itu tidak ada yang disiapkan mengajar dua model sekaligus,” ujar Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji melalui daring, Rabu (9/6/2021).

Ia menilai, penerapan PTM terbatas saat ini tanpa ada persiapan. Guru dan tenaga kependidikan, menurutnya belum diberikan pelatihan. Apalagi masuk 75 persen sisanya online 25 persen.

“Setahun terakhir ini santai saja. Guru disuruh berenang tapi belum pernah diajari berenang,” katanya.

Ia mengatakan, penerapan pembelajaran cara hybird (tatap muka dan daring) dapat memunculkan masalah baru. Sebab guru belum diajar mengajar cara hybird.

“Bukan menyelesaikan masalah learning loss, tapi muncul masalah baru,” ungkapnya.

Dia menyarankan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek (Kemdikbudristek) segera membuka pusat komando pembelajaran selama pandemi. Pusat komando pembelajaran ini berfungsi melakukan monitoring sekolah secara detail.

“Masing-masing sekolah ada monitornya. Kalau butuh bantuan buku ya dikirim buku. Jangan pulsa. Pusat komando bukan berarti sentralisasi,” terangnya.

Ia mengingatkan pemerintah agar berhati-hati dengan pembukaan PTM terbatas di tengah kasus Covid-19 yang terus naik saat ini. Bahkan, negara Singapura yang telah membuka sekolah sejak Juli tahun lalu, kini menutupnya kembali.

“Negara tetangga Malaysia lockdown. Kita malah mau buka sekolah. Guru katanya Juni 5 juta divaksin, tapi cuma 9 ribu,” ujarnya.

“Di SMAN 4 Pekalongan ada klaster. Kasus Covid-19 kita di Kudus, Pati, Bangkalan dan Demak naik,” imbuhnya.

Menurut dia, saat ini pembelajaran daring masih jadi pilihan yang tepat. Hanya saja, pembelajaran daring harus terus dioptimalkan.

“Sekarang malah dicap daring itu jelek dan buruk. Banyak yang daring tapi optimal. Harvard almamater Mendikbud bilang sekolah virtual lebih maksimal,” katanya. (nas)

Sponsored Content
Back to top button