Nasional

Pemanfaatan Nuklir Sebagai Sumber Energi Masih Dapat Penolakan Keras

INDOPOSCO.ID – Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ke-12 Purnomo Yusgiantoro menyatakan pemanfaatan energi nuklir masih mendapatkan penolakan keras dari masyarakat sehingga Indonesia belum bisa mengembangkan energi ini.

“Masyarakat punya prinsip Nimby not in my back yard. Mereka bilang setuju nuklir, tapi kalau ditanya bangun instalasi nuklir di halaman rumah mereka, mereka menolak,” kata Purnomo Yusgiantoro dalam diskusi daring Energy & Mining Editor Society seperti dilaporkan Antara, Senin (12/4/2021).

Sudut pandang Nimbyism merupakan karakteristik penolakan masyarakat terhadap usulan pembangunan di daerah mereka. Prinsip ini hanya menentang pembangunan karena dekat dengan mereka dan akan mentolerir atau mendukung jika pembangunan itu berada jauh dari mereka.

Purnomo menceritakan pengalamannya saat berencana membangun PLTN di Gunung Muria, Jawa Tengah, sekitar tahun 2000-an di mana saat itu keputusan membangun PLTN secara bertahap berkapasitas 4.000 MegaWatt (MW) untuk memenuhi kebutuhan listrik.

“Saat itu tim kami ditolak untuk persiapan pembangunan pembangkitan, akhirnya kami kembali, bahas lagi, lalu dibawa sampai ke sidang kabinet. Di sidang kabinet diputuskan tidak bangun lagi di Gunung Muria. Listrik cari di tempat lain,” cetus Purnomo.

Bila pemerintah ingin mengembangkan energi nuklir dalam komposisi bauran energi nasional, lanjutnya, opsi ini harus memperhatikan dampak lingkungan dan penerimaan publik.

Sementara itu Rektor Institusi Teknologi PLN Iwa Garniwa mengatakan Indonesia sudah seharusnya menguasai PLTN karena nuklir adalah energi masa depan. Meski demikian, PLTN bukan untuk mengganti energi tapi hanya sebagai bauran untuk membantu solusi kebutuhan energi di dalam negeri.

“PLTN harus kita kuasai karena next future energy. PLTN bukan untuk menggantikan energi tapi menjadi mix energy yang membantu solusi kebutuhan energi,” kata Iwa Garniwa.

Diketahui, program pengembangan energi nuklir di Indonesia bagaikan roller coaster. Perbincangan awal untuk menjadikan nuklir sebagai pembangkit listrik dimulai tahun 1978, ada banyak kajian ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuwan nasional kala itu. Namun, kecelakaan Chernobyl di Rusia yang terjadi pada 26 April 1986 lantas menurunkan semangat pengembangan energi nuklir nasional.

Rentang 1991-1996, muncul perbincangan serius untuk menggarap listrik nuklir yang dimulai dari studi kelayakan di Semenanjung Muria, Jawa Tengah. Bahkan saat itu pemerintahan Orde Baru mendukung dengan menghadirkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran. Krisis ekonomi tahun 1998 membuat rencana pengembangan energi nuklir tertunda dan cenderung vakum selama lebih dari satu dekade. (wib)

Sponsored Content
Back to top button