Gaya Hidup

Orang Tua Perlu Ketahui Risiko Penyakit Jantung Bawaan pada Bayi

INDOPOSCO.ID – Orang tua perlu mengetahui faktor risiko Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Disease (CHD) lewat skrining premarital. Selain itu saat ini PJB dapat ditangani tanpa pembedahan. Demikian diungkapkan Ketua Terpilih Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr. Radityo Prakoso, SpJP(K), FIHA.

“Skrining premarital dan konseling genetik bisa mengidentifikasi serta memodifikasi, melalui pencegahan dan manajemen, beberapa kebiasaan medis dan faktor risiko lainnya juga dapat mempengaruhi hasil kehamilan,” kata Dr. Radityo dalam seminar daring Heartology Cardiovascular Center, yang dirilis Antara, Minggu (25/7/2021).

“Pemeriksaan kesehatan wanita dan pasangannya sebelum terjadinya kehamilan, merupakan pencegahan primer dan langkah penting dalam membentuk masyarakat yang sehat,” imbuhnya.

Berita Terkait

Sebagai informasi, PJB adalah penyakit jantung yang telah ada sejak lahir akibat pembentukan jantung kurang sempurna pada fase awal perkembangan janin dalam kandungan. PJB mengakibatkan gangguan aliran darah pada ruang jantung sehingga darah yang dipompa tidak mencukupi kebutuhan tubuh. Tanpa kontrol kehamilan yang baik seringkali PJB tidak terdiagnosa pada bayi yang akan dilahirkan. Pada umumnya ketika orang tua mengetahui mereka memiliki bayi, proses perkembangan jantung pada bayi dalam kandungan telah selesai.

Menurut data PERKI, di Indonesia, terdapat 9 dari 1.000 bayi yang lahir dengan PJB. Sejumlah faktor risiko itu bisa diketahui melalui skrining. Pertama adalah gen PJB yang diturunkan pada bayi berhubungan dengan banyak sindroma genetik. Lalu Rubella yang dapat mempengaruhi perkembangan jantung janin, dan diabetes yang meningkatkan risiko PJB. Perlu diketahui, diabetes gestasional tidak meningkatkan risiko PJB. Disamping itu penggunaan obat-obatan seperti lithium atau isoretinoin juga berkaitan dengan PJB, apalagi jika diikuti dengan mengkonsumsi alkohol serta merokok.

“Dokter jantung janin memiliki peranan sangat penting tak hanya untuk melakukan diagnosis, tapi juga memberikan konseling prenatal untuk membantu pasien dan bayinya,” jelas Dr. Radityo.

Diagnosis prenatal memberikan kesempatan pada orang tua untuk berkonsultasi mengenai diagnosis anak dan meningkatkan pemahaman orang tua tentang PJB. Selanjutnya, ada skrining bayi baru lahir untuk PJB kritis.

Dr. Radityo mengungkapkan saat ini PJB dapat ditangani tanpa pembedahan. Intervensi kateter Zero Fluoroscopy (tanpa radiasi) merupakan teknik mutakhir penanganan PJB tanpa radiasi dan pembedahan. Radiasi dapat menimbulkan efek jangka panjang baik untuk pasien maupun dokter dan tim laboratorium kateterisasi. (wib)

Sponsored Content
Back to top button