Headline

Ongkos PPKM Besar dan Tidak Efektif, Ini Penjelasan Epidemiolog

INDOPOSCO.ID – Saat ini masyarakat dihadapkan pada pilihan sulit, antara ekonomi dan keselamatan jiwa. Pernyataan tersebut diungkapkan Epidemiolog Dicky Budiman dalam acara daring, Rabu (21/7/2021).

Dia mengatakan, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) sulit diterapkan di Indonesia. Bahkan, sejak awal pandemi diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Tidak akan efektif itu PSBB atau PPKM. Karena ongkos sosial, ekonomi dan politiknya besar,” katanya.

Ia menegaskan, langkah yang tepat dilakukan pada pendemi di Indonesia adalah melakukan 3T (tracing, testing dan treatment). Karena upaya tersebut sangat efisien untuk mencegah perburukan penularan.

“Jadi tidak ada lagi pesakitan dan kematian. Dan sampai saat ini langkah itu tidak dilakukan dengan baik,” ucapnya.

Ia menilai situasi pandemi di Indonesia saat ini sudah berat. Oleh karena itu harus dilakukan strategi yang sangat ekstrem 3T.

“Presiden lah yang harus menekankan ini, karena ini untuk menjaga kesiambungan pengendalian pandemi di Indonesia,” ujarnya.

Ia menegaskan, dua data yang disampaikan Presiden saat perpanjangan PPKM Darurat sangat lemah secara ilmiah. Baik itu angka BOR dan angka kasus harian.

“Keduanya ini bergantung pada hasil tes. Sementara tes kita sangat rendah, seharusnya tes kita itu dalam sehari 1 juta,” terangnya.

“Angka positif rate kita masih rendah, bahkan kalau merujuk data PCR kita mendekati 50 persen. Ini amat sangat tinggi dan positif rate trennya meningkat,” imbuhnya.

Dikatakan dia, angka keterisian rumah masih masih tinggi. Begitu pula angka kematian karena Covid-19. “Ini jadi indikator perburukan pandemi di Indonesia masih sangat jelas,” katanya.

Ia mengingatkan pemerintah melandainya kasus beberapa hari bukan mengindikasikan pandemi telah terkendali. Apalagi testing saat ini masih rendah.

“Ini sangat berbahaya, dan supaya PPKM tidak berlarut-larut langkah 3T harus lebih masif dilakukan. Kita baru mau mendekati puncak pandemi,” ungkapnya. (nas)

 

Sponsored Content
Back to top button