Nusantara

Peneliti BRIN Ungkap Sengkarut Permasalahan di Provinsi Banten

Baca Juga : Belum Ada Izin Open Bidding Sekda, Pemprov Bakal Perpanjang Muhtarom?

Hal itu berbanding terbalik dari jumlah industri di Kabupaten Tangerang 1.031, di Serang itu 236, Kota Cilegon 86. Dari jumlah industri 2.420 di Banten, mestinya bisa menyerap tenaga kerja.

“Tapi di sekolah SMK atau Perguruan Tinggi belum link and match, ini harus dievaluasi. Tempat latiah di BLK (Balai Latihan Kerja) juga belum link and match dengan industri. Pengangguran PR terbesar yang harus diselesaikan,” ucapnya.

Kemudian, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) belum tercapai di RPJMD meskipun mengalami kenaikan. Padahal membentuk provinsi alasannya selalu tertinggal secara ekonomi, terbelakang secara pendidikan, tapi IPM lambat naiknya.

“Pembenahan SDM (Sumber Daya Manusia) penting sekali, pengangguran berkolerasi dengan pendidikan. Zaman kolonial, Banten terisolir karena persoalan pendidikan,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti soal kemiskinan di Banten yang belum tercapai target sesuai RPJMD).

“Kemiskinan targetnya 4,74 persen, tapi angka kemiskian masih 6,6 persen. Kemiskinan kita di pandmei ini bisa jadi meningkat. Memang ada BLT (Bantuan Langsung Tunai) tapi belum mencapai sasaran kebijakan ini,” jelasnya. (son)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button