Nusantara

Karang Taruna Padang Raih Omset Jutaan Rupiah dari Budi Daya Ulat Hongkong

Kendala yang dihadapinya selama melakukan budi daya yakni adanya semut, tikus, cicak dan burung gereja yang masuk ke tempat budidaya tersebut.

Untuk perawatannya cukup mudah hanya perlu diberi makan berupa pakan ayam 511 dan serbuk jagung sekali dalam dua hari serta diberi minum air putih dengan cara di semprotkan ke dalam kotak yang dipenuhi ulat Hongkong.

Kemudian, hasil produksi ulat Hongkong dipengaruhi juga oleh suhu. Idealnya, ulat Hongkong bisa berkembang biak di suhu yang sejuk atau dingin, saat cuaca panas maka produksi ulat akan menurun.

Hasil dari budi daya ulat Hongkong ini selain di Padang juga sudah di pasarkan ke beberapa wilayah di Sumbar seperti Lubuk Basung, Payakumbuh, Painan, Kabupaten Solok, Dharmasraya dan Kerinci.

Ia berharap melalui budi daya ulat Hongkong ini bisa menjadi peluang usaha bagi pemuda atau pemudi di sekitar daerahnya yang masih belum mendapatkan pekerjaan.

“Saya juga berharap dukungan dari pemerintah untuk bisa memberikan perhatiannya kepada usaha kami ini,” ucapnya.

Selain budi daya ulat Hongkong, ia juga mulai membudidayakan ulat Jerman dan ukurannya lebih besar dari ulat Hongkong. Ulat tersebut dijualnya dengan harga Rp90 ribu per kilogram. (arm)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button