Nusantara

Pembangunan Bandara Bali Utara Harus Manfaat untuk Jangka Panjang

Jika Bandara Bali Utara dibangun di ujung Barat pulau Bali, ia memprediksi beberapa hal. Pertama tidak akan ekonomis bagi operator penerbangan, karena untuk target penumpang domestik sudah pasti tidak mengcover Buleleng Timur, Amlapura, Karangasem dan Bangli.

Kedua, tidak memberi multiflier effect bagi masyarakat Bali secara menyeluruh, karena lokasi secara geografis tidak di tengah wilayah Buleleng. Ketiga, cepat atau lambat akan merusak Taman Nasional Bali Barat dan mempercepat kepunahan satwa langka Jalak Bali.

Keempat, kurang aman untuk manuver landing/take off mengingat jarak antara pegunungan dan pantai yang sangat dekat. Belum lagi hanya berjarak 30 kilometer dengan Bandara Banyuwangi.

Berita Terkait

Jika masalahnya adalah urusan pembebasan tanah, kemudian muncul opsi baru lokasinya di ujung barat pulau Bali yang nilai manfaatnya tidak optimal untuk Bali secara menyeluruh, bukankah negara dengan dilindungi konstitusi Pasal 33 UUD 1945 bisa ‘ambil’ jika untuk kepentingan rakyat?.

Untuk pembebasan lahan, seharusnya negara lebih mudah menyelesaikan permasalahan perdata melawan korporasi dibanding ‘melawan rakyat’. Tanah Kubutambahan milik adat yang terikat kontrak dengan perusahaan (pihak ketiga).

Jika pemerintah Buleleng dan Bali benar-benar ingin menjadikan kehadiran pembangunan Bandara Bali Utara memberi manfaat optimal dan jangka panjang untuk Bali, maka harus berani putuskan lokasi Kubutambahan-lah yang paling ideal. Dengan catatan, pelepasan lahan adat tersebut dijadikan penyertaan modal dalam bentuk saham konsorsium pembangunan bandara. (arm)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button