Nasional

Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Potensi Resesi Dunia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal I-2022 juga bertumbuh 5,01 persen, lebih baik dari estimasi. Sementara di bulan April, terjadi inflasi sebesar 3,47 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021.

Aktivitas ekonomi di Tanah Air terlihat semakin pulih seiring dengan Covid-19 yang terkendali dan kekebalan imunitas yang meningkat.

Tangguhnya ekonomi RI juga tercermin dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang tetap terjaga, sehingga mendukung ketahanan sektor eksternal. Kinerja NPI pada triwulan I-2022 yang tetap terjaga didukung oleh surplus transaksi berjalan yang berlanjut, serta defisit transaksi modal dan finansial yang membaik dibandingkan triwulan sebelumnya.

Surplus transaksi berjalan pada triwulan I-2022 mencapai 200 juta dolar AS atau 0,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang tetap kuat seiring dengan harga ekspor komoditas global yang masih tinggi.

Pada April 2022, neraca perdagangan kembali mencatat surplus, yakni 7,6 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan dengan surplus bulan sebelumnya sebesar 4,5 miliar dolar AS dan merupakan yang tertinggi dalam sejarah.

Adapun posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2022 tercatat sebesar 135,7 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Dari pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 2,22 persen ke level 7.728 di bulan April. Penguatan tak terlepas dari derasnya aliran dana investor asing yang mencapai sekitar 2,78 miliar dolar AS.

Dengan perkembangan tersebut, investor terlihat masih optimistis akan prospek perekonomian domestik.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun mengalami kenaikan selama bulan April, yakni dari awal bulan di level 6,728 persen ke 6.986 persen.

Kenaikan tersebut mengikuti imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi di kisaran 3,1 persen, seiring dengan kenaikan suku bunga The Fed.

Walaupun potensi kenaikan lanjutan dari imbal hasil berisiko memicu aliran modal asing dari pasar obligasi Indonesia, namun kepemilikan asing saat ini sudah cukup rendah di bawah 20 persen yang bisa menopang stabilitas pasar keuangan domestik dari goncangan ekonomi global.

Sementara itu, mata uang rupiah melemah 0,83 persen sepanjang bulan lalu dan ditutup pada level Rp14.482 per dolar AS di akhir bulan. Pelemahan mata uang Garuda diperkirakan akan berlanjut di tengah penguatan dolar AS akibat kebijakan moneter The Fed.

Bank OCBC NISP memperkirakan kurs Garuda akan berada di kisaran Rp14.408 per dolar AS hingga akhir tahun seperti dikutip Antara, Minggu (29/5/2022).

Di sisi lain, BI akan terus mencermati perkembangan dan memastikan berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Meski berbagai risiko menekan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia nyatanya mampu bertahan dengan cukup baik sejauh ini berkat seluruh upaya baik dari pemangku kebijakan, pelaku usaha, dan pihak lainnya, yang meningkatkan optimisme masyarakat.

Kuatnya koordinasi saat ini diharapkan bisa dipertahankan agar Indonesia tak mudah terguncang kekhawatiran resesi yang meningkat di global.(mg1)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button