Nasional

Wajah Warga Suku Badui Itu Semringah Saat Mensos Datang

Sebagai bentuk kehormatan, Mensos menerima pengalungan tenun karya warga Badui. Dalam kesempatan tersebut, Mensos berbincang tentang berbagai hal dengan para tokoh Badui. Misalnya sejauh mana adat mengizinkan peternakan ayam, lele, dan pengembangan life skill seperti menjahit. “Kalau beternak ayam atau ikan lele boleh ngga?” tandas Risma.

Kepala Desa Kanekes Jaro Saija menyatakan bahwa hal tersebut tidak dibenarkan dalam aturan adat. Bisa saja warga setempat menerima bantuan hewan ternak namun untuk dibiarkan hidup bebas, tidak bisa dipelihara dalam sistem peternakan.

Mensos juga bertanya kemungkinan diberikan bantuan keterampilan menjahit bagi kaum ibu suku Badui. Kembali Jaro kembali menyatakan, bisa saja dilakukan namun tidak bisa menempati lokasi dimana mereka tinggal.

“Bisa menjahit tapi tidak di sini Bu. Bisa di bawah Bu (di Saung Kreatif Badui, lokasi untuk umum di bawah/sisi luar kampong Badui, red),” kata Jaro.

“Oh bisa ya. Kalau gitu nanti saya akan taruh mesin jahit di bawah ya. Ibu-ibu di sini bisa belajar menjahit,” kata Mensos. Selanjutnya ia lebih banyak mendengarkan aspirasi dan pendapat dari warga Badui.

Kepada Mensos, Jaro mengungkapkan keinginan warga untuk dapat memperbaiki akses pejalan kaki dari Saung Kreatif menuju kampung Badui. Inilah jalan setapak yang dilalui Mensos dan rombongan. Kondisinya masih berupa tanah dan licin karena hujan. “Kami perlu pengerasan jalan Bu. Supaya lebih nyaman untuk dilewati,” tandas Jaro.

“Berapa biayanya? Berapa meter itu panjangnya? Saya kasih sekarang bisa ya uangnya,” kata Mensos. Bersamaan dengan itu, Mensos menyerahkan uang tunai Rp100 juta.

Para tokoh Badui seperti Jaro dan Mursid menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mensos atas bantuan yang telah diberikan. “Terima kasih atas bantuan ibu. Sudah jauh-jauh tiba dari Jakarta ke kampung Badui. Juga datang untuk memberikan bantuan,” katanya. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button