Nasional

Komitmen Perangi Polusi Plastik di Laut dan Perubahan Iklim

Saat ini, 36 persen sampah plastik dikelola dengan cara pembakaran terbuka dan menyumbang sebanyak 91 persen dari total carbon footprint sampah plastik Indonesia. Pendanaan ini akan membantu Reciki untuk memperluas kapasitasnya saat ini dan mewujudkan dampak lingkungan yang kuat agar dapat mencegah 400 ribu ton kebocoran polusi plastik, menghindari lebih dari 700 ribu ton greenhouse gas emissions (CO2e) dan mengelola hampir 3 juta ton sampah selama periode 10 tahun.

Sementara, CEO dan Pendiri Reciki, Bhima Aries Diyanto mengatakan, pihaknya menanti bermitra dengan Circulate Capital untuk mengembangkan dan meningkatkan skala operasi Reciki guna memenuhi permintaan mendesak akan pengelolaan sampah yang efektif dan ramah lingkungan.

“Kami percaya solusi milik kami dapat mengubah industri pengelolaan sampah Indonesia, mengurangi krisis polusi plastik, dan memberikan nilai lebih dari bahan bekas. Tentu dengan memberdayakan masyarakat lokal untuk menjadi bagian dari solusi,” katamya.

Sebagian pinjaman yang diberikan kepada Reciki mendapat jaminan kredit dari United States International Development Finance Corporation (DFC) yang berkolaborasi dengan United States Agency for International Development (USAID). Adanya jaminan ini mengurangi risiko investasi dan mendemonstrasikan manfaat blended finance.

Menurut Vice President DFC bagian Pengembangan Kredit, Jim Polan, investasi Circulate Capital Ocean Fund di Reciki adalah jenis investasi swasta yang tepat dan menarik bagi DFC untuk dikatalisasi. Kemitraan dengan Ocean Fund ini memungkinkan Reciki untuk menunjukkan profitabilitas model bisnis terukur yang bermanfaat bagi lingkungan serta ekonomi di Indonesia dan sekitarnya.

“Investasi ini akan menciptakan lebih dari 400 pekerjaan yang aman dan stabil sekaligus mencegah sampah plastik mencapai laut dan menghindari emisi karbon ke atmosfer,” pungkasnya.(arm)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button