Nasional

Gusdurian dan Tanggung Jawab Meraih Puncak Kekuasaan

Saat soliditas di internal partai politik Islam masing-masing tercapai, baru saat itu kita bicara soliditas antarpartai Islam. Jika kembali tercapai, maka terakhir, kita bicarakan soliditas antara partai Islam dan partai nasionalis, demi kepentingan bangsa dan negara di masa depan. Saya kira tepat sekali pendapat Buya Syafii Maarif mengomentari keresahan hati Presiden Jokowi. Bahwa bangsa ini dihormati negara asing dengan sangat mentereng. Tetapi, sangat rapuh, kotor, dan jijik di dapur sendiri.

Penulis merasakan hal yang sama. Untuk itulah, sependek pengetahuan penulis, langkah kecil yang bisa dilakukan untuk mengubah masa depan adalah dimulai dari diri sendiri masing-masing. Yang paling nyata dan dekat dengan kehidupan penulis adalah tentang hubungan PKB dan Gusdurian. Mengapa Gusdurian? Karena sepengamatan penulis, komunitas yang satu ini diisi generasi muda milenial dari banyak lapisan sosial, mulai mahasiswa, doktor profesor, kiai, hingga politisi ulung. Jika mereka bersatu padu dengan PKB, bukan hanya partai Islam yang akan bermanfaat, melainkan juga umat muslim, bangsa, dan negara ini.

Dukungan tegas dari seluruh Gusdurian kepada PKB pasti akan menginspirasi basis massa partai politik Islam yang lain, agar mereka juga segera membangun kembali soliditas. Sebaliknya, jika Gusdurian mencontohkan keteladanan yang buruk, yang dengan berbagai alasan tak terbantahkan menolak bergabung dengan PKB, orang lain juga bisa melakukan hal yang sama. Jika sampai terjadi, bukan hanya PKB yang terpisah dari Gusdurian, melainkan percekcokan dan konflik politik seakan sebuah tradisi yang lazim dan lumrah. Padahal, keburukan apa pun, sekalipun terus-menerus terjadi dan berulang, tetaplah keburukan. Perpecahan adalah keburukan tersebut.

Sebaliknya, persatuan dan kesatuan, sekalipun sulit diraih, tetaplah kebaikan. Bahkan, sekalipun seluruh dunia setuju bahwa persatuan sebagai sesuatu yang sia-sia kita perjuangkan, anggapan tersebut tidak menyurutkan nilai penting persatuan. Karena itu, atas dasar itu pula, apa makna Gusdurian memperjuangkan nilai-nilai pluralisme, harmoni, persatuan antar-anak bangsa, sementara pihaknya sendiri sangat sulit untuk hidup harmoni atau bersatu dalam satu payung bersama (PKB), yang diciptakan dan didirikan oleh satu figur yang sama-sama kita junjung tinggi: Gus Dur. Tentu kita tidak mau pembicaraan yang omong kosong.

Pembicaraan omong kosong belaka yang dimaksud di sini adalah tentang cara teknis mewujudkan cita-cita Gus Dur. Beliau (almaghfurlah) selama ini tidak hanya berjasa besar untuk menyatukan seluruh elemen bangsa, bahkan hak-hak kaum minoritas pun diperjuangkan. Namun, itu juga sindiran bagi kita semua. Jika membangun harmoni dengan minoritas maupun nonmuslim saja bisa dan penting, betapa jauh lebih penting membangun harmoni sesama muslim. Karena pengertian umat muslim di sini sangat luas, lintas partai, lintas ormas, mari kita bangun harmoni di tingkat yang paling sempit. Yaitu, di tingkat sesama pengagum Gus Dur dan sesama ahli waris harta berharga Gus Dur, PKB.

Dengan memberikan contoh yang baik dan keteladanan yang luhur, Gusdurian pasti menginspirasi entitas lain di luar sana. Jika Gusdurian dan PKB bisa bersatu padu dengan harmoni, bahkan menjadi pilar utama penopang suara PKB, maka itu akan jadi keteladanan yang baik, bukan hanya bagi internal PKB dan Gusdurian, melainkan juga di tingkat yang lebih tinggi/luas lagi. Yaitu, bagi warga nahdliyyin. Artinya, jika PKB dan Gusdurian saja bisa bersatu, mengapa warga nahdliyyin yang bukan PKB dan Gusdurian tidak bisa bersatu!

Sebaliknya, jika Gusdurian dengan pikirannya sendiri mencari-cari celah agar jauh dari PKB, atau warga nahdliyyin juga mencari-cari celah agar tetap bukan PKB, maka ini akan jadi preseden buruk bagi siapa pun di luar lingkungan nahdliyyin, Gusdurian, bahkan bagi parpol lain. Mereka akan terus-menerus terkerangkeng oleh fenomena-fenomena sosial politik bahwa perbedaan-perbedaan yang mengarah pada konflik adalah sesuatu yang normal.
Atau, mereka akan mencari diksi kata yang menipu, dengan mengatakan: ”Konflik kepentingan itu tidak ada. Yang ada hanya perbedaan.” Sungguh hal tersebut tidak boleh terjadi. Sebab, perbedaan dan konflik itu dua hal yang beda tipis.

Dengan kembalinya Gusdurian ke PKB, konflik akan teratasi, perbedaan akan dihapus. Jika itu berhasil, sudah pasti di tempat lain, di parpol Islam lain, di komunitas muslim lain, konflik pasti bisa diatasi, dan perbedaan kepentingan bisa ditangani. Sebaliknya, jika Gusdurian makin jauh dari PKB, keteladanan apa lagi yang bisa diharapkan dari mereka? Wallahu a’lam bissawab. (*)

*) Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; alumnus Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; alumnus Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; alumnus Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; wakil ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren Se-Indonesia); pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010–2015.

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button