Nasional

Menteri ESDM Tawarkan Investasi Energi Bersih

Kondisi ini sejalan dengan pemenuhan target rasio elektrifikasi 100 persen pada 2022 mendatang.

“Tentu, ini menjadi peluang bagi pengembangan energi baru terbarukan karena harga bahan bakar fosil di daerah terpencil mahal, sedangkan sumber energi baru terbarukan tersedia dan dapat dimanfaatkan secara lokal,” kata Arifin.

Pemerintah terus memperkuat kerangka peraturan untuk memastikan keberhasilan transisi energi di Indonesia.

Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2021-2030 memberikan porsi lebih besar kepada energi bersih.

“Energi terbarukan akan berkontribusi lebih besar dalam penambahan kapasitas pembangkit listrik, dengan 20,9 GW sumber energi terbarukan untuk listrik atau 51,6 persen dari total kapasitas pembangkit yang akan dibangun hingga tahun 2030,” jelas Menteri Arifin.

Selain itu, pemerintah juga menetapkan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon yang mengatur tentang mekanisme perdagangan karbon dan pajak atas karbon.

Prinsip utama kebijakan tersebut adalah mengenakan pajak karbon pada kegiatan yang menghasilkan karbon dan berikan insentif efisiensi karbon.

Menteri Arifin mengakui penggunaan energi bersih sebagai sumber listrik masih memiliki sejumlah tantangan, seperti intermitten surya dan angin, keterbatasan kemampuan jaringan untuk menyerap listrik dari energi bersih, dan minat lembaga keuangan untuk berinvestasi di sektor energi terbarukan masih kurang karena risikonya yang tinggi.

Tantangan selanjutnya berupa pembiayaan berbunga tinggi, biaya investasi yang tinggi untuk beberapa energi terbarukan seperti panas bumi, dan keterbatasan kemampuan industri dalam negeri terkhusus di bidang teknologi. (mg2)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button