Nasional

Kampus Bersiap Tatap Muka Terbatas, Prokes Tetap Utama

Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) sekaligus Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jamal Wiwoho, mengakui pentingnya PTM Terbatas adalah guna mencegah terus hilangnya capaian belajar (learning loss). “Kondisi pendidikan Indonesia sudah tertinggal dibandingkan negara-negara lain,” tutur Jamal yang mengapresiasi percepatan vaksinasi guru, dosen, dan tenaga kependidikan.

Jamal mengungkapkan, UNS Surakarta secara bertahap telah dibuka untuk beberapa aktivitas tertentu, dengan maksimal daya tampung 30 persen kapasitas normal. Dia menegaskan, saat ini seluruh dosen dan tenaga kependidikan UNS sudah divaksinasi, demikian juga dengan mahasiswa. “Rumah Sakit UNS juga kita tunjuk mengepalai Satgas Covid-19,” ucap Jamal yang juga memastikan sarana/prasarana PTM Terbatas tetap disiapkan.

Jamal juga menyoroti banyaknya mahasiswa yang ingin kembali ke kampus untuk berinteraksi dengan teman-temannya dan beraktivitas kembali. Ia berprinsip, PTM Terbatas harus bersyarat, yaitu syarat seluruh warga kampus sudah divaksinasi dan izin orang tua bagi mahasiswa untuk mengikuti PTM Terbatas. Ia meyakini, izin orang tua amat penting untuk mahasiswa mendapatkan legitimasi tatap muka. “Termasuk, di dalamnya, tidak memiliki penyakit bawaan,” ujar Jamal.

Dirinya mengakui, keberhasilan tatap muka terbatas memang kembali kepada para rektor dan kepala perguruan tinggi dalam mempersiapkan kampusnya. “Saya mengajak para pemimpin perguruan tinggi untuk bersama-sama memberanikan diri memulai PTM Terbatas dengan prinsip bersyarat, berizin, dan bertahap ini. Dengan begini, akan ada kampus-kampus yang membuka diri secara perlahan,” ucap Jamal.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku, Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B. Darmadi, juga menekankan bahwa prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi adalah kesehatan dan keselamatan warga kampus. “Bagi yang di level 4, jelas tidak diperbolehkan. Tapi yang di level 3, 2, dan 1, diperbolehkan. Di level 3, tentu risiko penularan masih cukup tinggi sehingga harus hati-hati. Semua perguruan tinggi juga wajib memenuhi daftar periksa,” terang Sonny.

Diakui Sonny, Satgas Covid-19 telah meminta setiap institusi pendidikan yang membuka PTM Terbatas untuk memiliki Satgas Penanganan Covid-19 di internal instansinya. “Tugas Satgas Covid-19 di kampus selain membuat protokol kesehatan di kampus, juga mengawasi dan menangani jika ada kasus. Harus ada pengetesan dan pelacakan terus-menerus, tentunya didukung dengan pencegahan,” ucap Sonny.

Sony mengatakan, khusus bagi kelompok rentan terpapar Covid-19 seperti yang memiliki komorbid, populasinya harus dipisahkan. Tempat-tempat risiko tinggi seperti kantin juga sementara tidak dibolehkan. Sonny mengimbau seluruh warga kampus dipastikan status vaksinasinya lewat Aplikasi Peduli Lindungi. “Silakan akses Instagram resmi @satgasperubahanperilaku, yang memuat panduan-panduan protokol kesehatan untuk menghadapi PTM Terbatas,” ucap Sonny.

Mahasiswa Universitas Diponegoro, Yohana Citra Mahardhika, mengaku sudah rindu kembali berdiskusi langsung dengan para dosen dan teman-teman di kelasnya secara langsung. “Saya rindu bertemu teman-teman yang di luar kota maupun yang di luar Jawa, mengerjakan tugas bersama, dan kembali berorganisasi,” tutur Yohana. Namun, ia sadar seluruh mahasiswa harus mengubah kebiasaan dengan mengutamakan kesehatan dan kebersihan, karena tuntutan masa pandemi.

Yohana mengatakan, mahasiswa Indonesia siap mengikuti arahan Kemendikbudristek dan Satgas Penanganan Covid-19 mengenai PTM Terbatas. Ia berharap, pintu kampus-kampus segera terbuka, sehingga mahasiswa dapat segera melepas kerinduan untuk segera berkuliah, rapat, diskusi, dan juga demi kesehatan mental. (bro)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button