Nasional

Moderasi Agama Kunci Kerukunan dan Toleransi di Indonesia

“Jadi sepanjang itu punya maslahat, punya nilai untuk manusia, tdak perlu mendasarkan pada teks. Jadi pemahaman terlalu bebas, melahirkan pemahaman yang liberal,” tambahnya.

Maka pentingnya memahami sikap moderasi agama, untuk menjadi formula ampuh dalam merespons dinamika zaman di tengah maraknya intoleransi.

“Moderasi agama itu ingin menarik ke tengah, pemahaman liberar dan pemahaman yang terlalu kaku itu,” jelas politkus senior Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Ia menjelaskan, ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau yang selalu selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Itu sebagaimana dilansir dari laman Nahdlatul Ulama.

Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Kedua, tawazun atau seimbang dalam segala hal, dan ketiga ialah al-i’tidal atau tegak lurus.

“Pola keberagaman yang bersikap moderat (wasathiyah) memastikan pemahaman wasathiyah itu adalah sikap adil, berimbang, i’tidal dan tawazun,” terangnya.

“Itu harus betul-betul bisa diterapkan dalam kehidupan kita. Apalagi di tengah masyarakat yang plural, yang majemuk, berbeda-beda adat istiadatnya, budaya, agamanya,” Zainut menandaskan. (dan)

Laman sebelumnya 1 2
Sponsored Content
Back to top button